“Yang lebih berbahaya dari rendahnya minat baca adalah
meningkatnya syahwat memusnahkan buku.” Zen RS, “Boleh Kerdil Asal Pancasilais.”
Perpustakaan
Nasional seharusnya menjadi tempat mekar dan mewanginya dunia literasi, ilmu
pengetahuan dan penelitian. Disanalah semestinya kebudayaan dirayakan, dihayati
dan dihidupkan. Perpustakaan Nasional seharusnya menjadi benteng bagi kebebasan
berfikir, pengutamaan nalar dan akal sehat, juga museum yang mengabadikan
memori kolektif sebuah bangsa sekaligus serta menjadi taman yang membiakkan
imajinasi.
Peradaban-peradaban
besar dalam sejarah dunia selalu diawali oleh keberanian untuk menggali serta
menjawab tantangan-tantangan zaman dengan mengerahkan akal budi. Penemuan-penemuan
hebat dan menentukan dalam kebudayaan yang mengizinkan akal bekerja sampai
batas-batasnya yang terjauh.
Kesediaan
untuk berjumpa dan bercakap-cakap dengan berbagai ide, berbagai kepercayaan, memungkinkan
sebuah kebudayaan menguji dirinya sendiri menjajal batas-batasnya sendiri, dan
darisanalah berbagai perbenturan akan membawanya kepada kemajuan. Terbentur,
terbentur, terbentur dan akhirnya : terbentuk.
Mustahil kita
berharap Perpustakaan Nasional bisa memberikan sesuatu yang berharga dalam
pertumbuhan kebudayaan dan kecerdasan bangsa ini jika dipimpin oleh orang
dengan pikiran kerdil, degil, dan cupet. Jika orang seperti itu menjadi kepala
Perpustakaan Nasional, maka barangkali kita memang harus kembali pada apa yang
terjadi selama tiga dekade kekuasaan Orde Ba(r)u.
Amanat konstitusi
untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”,
tidak boleh seenak udel ditafsirkan sebagai “mengerdilkan
pikiran bangsa”. Atau semacam “boleh
bodoh, yang penting taat. Boleh kerdil, asalkan Pancasilais”.
~SabdaPerubahan

