Disini jadi kayak
ada pesan moral bahwa “oh saya tuh udah
punya pasangan sebetulnya”, udah ditulis tuh di lauhful mahfuz, ditulis didalam
kitab ‘Takdir Saya’.
Si fulan,
kan kita dulu waktu kita, saya atau teman-teman yang lain lah. Dulu waktu sekolah
suka nulis-nulis nama gitu kan? Didinding, dibangku, dikursi, atau di papan
tulis. Tiba-tiba kalo kita masuk ke kelas duluan, terus temen-temen belum pada
dateng, kita nulis sendiri “Love siapa?” kayak (misalnya) Susanto ❤ Susanti.
Sampe saking kita seneng nulis nama pasangan, di
Jabal Rahma itu paling banyak nama Indonesia loh. Memang paling banyak (nama)
yang saya periksa di Jabal Rahma itu pasti Budi, Anto, pokoknya nama-nama
Indonesia. Jarang ada namanya Muhammad atau Yusif, gitu jarang. Karena orang
Arab gak suka nulis disitu.
Kita banyak (liat) tuh pas naik ke Jabal Rahma
namanya Indonesia semua. Kita lebih suka menulis nama kita di Jabal Rahma. Sedangkan
kalo orang Arab lebih suka menulis namanya dikartu undangan (ceilah^^).
Nah artinya kita kan nulis-nulis sendiri dengan
hasrat kita, dengan harapan kita, dengan ‘nafsu’ kita kadang (*kalo bahasa
kasarnya).
Padahal sebetulnya tulisan kayak gitu tuh udah
ada di Lauhful Mahfuz, kita aja yang belum baca. Udah diukir sama Allah tulisan
itu.
Bukan lagi di papan tulis kelas, bukan di bangku
sekolah, bukan didinding, bukan di tembok, bukan di buku diary, bukan di Jabal
Rahma, tapi di Lauhful Mahfuz udah ditulis namanya.
Dan itu salah satu diantara ketetapan Allah yang
sudah Allah tetapkan bahkan ketika Allah awal menciptakan kita. Allah berfirman
:
“Sesungguhnya
Kami telah menciptakan kalian dari seseorang yaitu Adam, lalu kami ciptakan
darinya pasangan. Lalu dari pasangan itu Kami perkembangbiakkan laki-laki dan
perempuan .”
Artinya, terus ada hukum kayak gitu. Dari mulai
Adam Hawa, berlaku terus sampe hari kiamat. Kalo nggak, kalo sampe distop,
berarti tidak ada perkembangbiakkan.
Perkembangbiakkan ini menunjukkan bahasan lain dari
‘bahwa pasangan ini akan terus ada sepanjang kehidupan di dunia’. Sehingga kita
tidak perlu khawatir ketuker.
Ini yang bisa bikin kita kadang-kadang ikhtiarnya
atau usahanya kadang-kadang suka salah. Karena kadang-kadang kita nggak yakin
dengan poin ini.
Kalo kita yakin sama poin ini, pasti ikhtiar kita
kan lebih terjaga, tidak akan sampai break the line. Kenapa?
Kenapa orang melanggar syariat selama mencari
rezeki yang halal? Karena dia nggak yakin kalo rezeki itu ditangan Allah.
Kalo dia yakin rezeki itu ditangan Allah, ngapain
dia harus melanggar? Allah kan tetep ngasih tanpa harus melanggar.
Justru gara-gara kita melanggar, Allah nanti akan
memutarbalikkan sesuatu yang baik yang
harusnya jadi jatah kita menjadi sebuah musibah.
Orang yang melanggar ikhtiar yang halal dalam
mencari rezeki, itu pasti karena dia nggak yakin rezeki itu Allah yang kasih, rezeki
ada ditangan Allah, Allah yang menjamin.
Makanya dia ketika ngerasa kayak nggak ada
harapan, banyak kesulita. Dia pun mencampakkan batasan-batasan agama Allah dan
mencari sesuatu yang menurut logika dia akan bisa dia dapatkan, walaupun itu
melanggar.
Begitu juga jodoh. Kalo orang melanggar/ kalo
orang khawatir sampe “nanti kalo keduluan
orang lain, nanti kalo misalnya ternyata jadian sama si dia atau siapa”
misalnya. Sehingga kita menggunakan cara-cara yang tidak Allah ridhai. Salah satu
caranya adalah main belakang. Main belakangnya menggunakan sihir atau dukun
segala macem.
Ini berarti kita nggak yakin dengan takdir Allah
bahwa pasangan itu udah ditulis sama Allah.

