Cute Bow Tie Hearts Blinking Blue and Pink Pointer

Harry Potter - J.K. Rowling


Novel ini nampaknya sedang digandrungi oleh usia-usia remaja sebagai buku bacaan mereka. Bagaimana pembawaan karakte yang ditulis dalam sebuah novel memiliki magnet tersendiri dikalangan masyarakat dari mulai kelas atas sampai kelas bawah.
Bahkan sudah banyak film layar lebar yang diadopsi dari novel nan laris manis dipasaran ini. Novel ini sudah laku lebih dari 375 juta copy diseluruh dunia. Ya, inilah novel bergenre fantasy, HARRY POTTER.
Bagi saya pribadi, buku ini menumbuhkan minat baca yang sangat luar biasa. Ketujuh novel Harry Potter ini selesai say abaca dalam waktu kurang dari 2 bulan, dan 2 bulan waktu yang saya habiskan untuk membaca novel tersebut membuat saya berpikir pantas jika buku ini terjual hingga tembus angka 375 juta copy.
Novel dengan ratting remaja ini memiliki tebal halaman lebih dari 350 halaman, bahkan seri ke 4-7 lebih dari 600 halaman hingga 1000 halaman. Kita akan bersama-sama mendiskusikan tentang sisi menarik dari novel ini dan beberapa kekurangannya.
SISI MENARIK
1.      Alur Cerita yang Konsisten
Jika kalian sudah membaca seluruh novel ini, kalian pasti akan menyadari bahwa novel Harry Potter memiliki alur cerita maju. Bagian awal cerita pasti dimulai dari Private Drive, komplek perumahan yang menjadi tempat tinggal bibi, paman, dan sepupu Harry. Selain itu, cerita juga akan dimulai dengan menjelaskan hal-hal membosankan selama liburan musim panas. Harry yang diperlakukan dengan kurang baik oleh Bibi Petunia dan Paman Dursley yang menganggap bahwa sihir adalah sebuah aib dalam keluarga mereka. Mereka takut jika para tetangga tahu bahwa seorang penyihir tinggal dirumah mereka.
Kemudian cerita dilanjutkan dengan perjalanan Harry ke Sekolah Sihir Hogwart dengan menaiki kereta berwarna merah Hogwarts Express di stasiun King’s Cross. Pada bagian ini, Harry pertama kali bertemu dengan Malfoy dan Hermione di kompartemen kereta ketika Harry juga baru berkenalan dengan Ronald Weasley (Ron), kemudian sang dementor di dalam kereta, diam-diam menyelinap ke kompartemen Malfoy untuk mencari informasi tentang Kau-Tahu-Siapa (Lord Voldemort), dan pertama kalinya juga berkenalan dengan Luna Lovegood.
Sebagian besar cerita ini akan dihabiskan di dalam Hogwart. Mulai dari pencarian batu bertuah, menemukan kamar rahasia tempat ular Basilisk dan menghancurkan Horcux pertama kalinya, bertemu dengan ketiga sahabat ayahnya, James Potter, yaitu Moony (Lupin), Snuffles (Sirius), dan Wormtail (Pettigrew), diselenggarakannya turnamen Triwizard dan mengetahui bahwa Voldemort telah hidup kembali, mengetahui perkumpulan Dumbledore yaitu Orde Phoenix, terbunuhnya Dumbledore oleh Pangeran berdarah campuran alias Severus Snape, hingga terbunuhnya Voldemort di dalam sekolah Hogwart.
Bagian ending dari novel ini pasti ketika mereka kembali ke dunia muggle dan cerita berakhir di stasiun King’s Cross sebagai tempat berpisahnya Harry, Ron, dan Hermione. Alur maju seperti ini menurut saya memang mudah dicerna oleh pembaca. Tidak seperti buku dengan alur maju mundur dimana kita perlu membolak-balik halaman untuk melihat cerita sebelumnya agar memahami alur yang sedang diceritakan.
2.      Konflik Cerita yang Terkesan Natural
Beberapa novel yang pernah saya baca memasukkan konflik kepada tokoh utamanya seperti ingin menonjolkan sisi tokoh utama yang berlebihan. Mulai dari berlebihan beuntung, berlebihan hebat, berlebihan peka terhadap situasi, sampai berlebihan sial. Hehe.
Berbeda dengan cerita di novel Harry Potter yang menceritakan kehidupan Harry yang natural, tidak terlalu dipaksakan untuk selalu berhadapan dengan Voldemort. Sesekali menceritakan pelajarannya yang selalu dibencinya yaitu wali kelas ramuan bernama Snape. Menceritakan juga pelajaran kesukaannya yaitu pertahanan terhadap ilmu hitam yang selalu mendapat nilai bagus, juga menceritakan kehidupan Harry ketika bermain Quidditch.
Artinya cerita dalam novel Harry Potter ini seakan ingin membuat pembaca enjoy dengan kisah hidup Harry yang sesuai dengan anak usia sekolah, bukan memaksa dengan membiarkan Harry selalu dalam penyerangan dari Pelahap Mau atau Voldemort.
Pada awalnya Harry tidak tahu kenapa dia harus tetap terus menerus tinggal di Private Drive padahal dia lebih suka tinggal di The Burrow, tempat tinggal keluarga Weasley. Dalam cerita tidak langsung diberitahukan kepada Harry apa penyebabnya hingga pada buku keenam, Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran. Akhirnya Harry tahu bahwa alasannya adalah untuk mengamankan dirinya dari kejaran Voldemort hingga usianya 17 tahun.
Juga bagaimana kebencian Harry terhadap Snape yang semakin menjadi-jadi hingga buku ketujuh, Harry Potter dan Relikiu. Kematian menunjukkan kebenarannya melalui pansive dari cairan yang entah apa (kalau di filmnya air mata Snape, di bukunya cairan yang keluar mulut dan telinga gitu). Hingga akhirnya anak kedua Harry diberi nama Albus Severus Potter.
Belum lagi cerita tentang orang tua Harry, Lily dan James yang perlahan-lahan diceritakan. Pertama kali bertemu pada buku pertama, Harry Potter dan Batu Bertuah, dilihatnya orang tua Harry pada sebuah cermin tasrah dan mengetahui kebenarannya dalam ingatan Snape di buku terakhirnya.
Menurut saya iniah untungnya jika halaman novelnya melebihi dari rata-rata novel kebanyakan. Penulis bisa lebih leluasa memasukkan cerita-cerita penunjang yang membangkitkan gairah pembaca dengan menampilkan tokoh-tokoh yang secara perlahan dikenalkan, latar tempat yang lebih eksploratif hingga adegan-adegan pertempuran yang membuat novel ini tidak terkesan buru-buru.
3.      Sangat sedikit adegan erotis
Nah ini juga menjadi point menarik bagi saya. Jika melihat novel-novel fantasy luar negeri yang biasanya akrab dengan ciuman, hubungan sex, mabuk dan sebagainya, novel Harry Potter ini sangat sedikit menceritakan adegan berciuman, adegan mabuk, bahkan tidak ada cerita yang menjerumus kehubungan sex. Menurut saya ini sebuah point plus, melihat novel dengan segmentasi pembaca usia remaja keatas.
Ini juga membuktikan bahwa cerita tanpa bumbu adegan dewasa pun bisa laku di pasaran, bahkan terjual lebih dari ratusan juta copy.
4.      Cerita yang sangat cocok difilmkan
Sebuah gebrakan yang luar biasa diabad 21 tentang film fantasy yang diadaptasi dari buku novel. Dari novel Harry Potter inilah timbul karya-karya fantasy lain yang meraup keuntungan dari tingginya peminat karya fantasy akibat boomingnya Harry Potter. Bukan hanya penulis luar negeri saja tetapi penulis Indonesia pun mulai membuat novel fantasy. Meskipun akan sangat sulit membuat fimnya di Indonesia, namun  bukan sebuah masalah jika sebuah novel tidak bisa difilmkan karena keterbatasan teknologi.
Cerita tentang penyihir yang biasanya terkesan jahat, tapi dalam novel Harry Potter penyihir hidup selayaknya manusia biasa dan tidak melulu disandingkan dengan kegiatan kejahatan. Dampak pengaruhnya bagi anak-anak yang berimajinasi dengan teman-temannya menjadi penyihir dan mengucapkan mantra “abracadabra” yang mana kalau di buku Harry Potter bertuliskan Avada Kadavra, menaiki sapu taman seakan-akan bisa terbang, atau membuat tongkat sihir dari kayu yang padahal pensil. Imajinasi anak-anak menjadi lebih berkembang daripada menyaksikan film percintaan remaja yang entah imajinasi seperti apa yang akan terbentuk dalam benak anak-anak Indonesia.
5.      Pendalaman karakter yang baik
Ini juga membuat saya betah membaca novel Harry Potter tanpa diselingi novel lain. Pendalaman karakter setiap tokohnya berhasil menyita waktu membaca kita hingga berjam-jam. Seperti betapa menyebalkannya Draco Malfoy, seberapa konyolnya si kembar Fred dan George Waesley, Snape yang juga sangat menyebalkan karena terlalu memihak Slyterin, Dumbledore yang sangat bijak, dan beberap tokoh lainnya dengan karakter yang membuat ceritanya menjadi lebih hidup.
Tentu novel Harry Potter ini juga memiliki beberapa hal yang menurut saya bisa dikatakan  sebagai kekurangan dari novel Harry Potter.
1.      Akhir cerita menggantung
Tentu sebetulnya bukan sesuatu yang salah membuat ending sebuah novel menggantung, karena ini juga dimanfaatkan oleh penulis untuk membuat para pembaca penasaran. Namun dalam buku ketujuhnya disebutkan ada sedikit kekhawatiran Harry untuk melepas anak-anaknya untuk pergi ke Hogwart. Harry mencemaskan bekas lukanya yang selama 19 tahun terakhir tidak merasakan sakit sama sekali. Apakah Voldemort akan bangkit lagi? Atau akan ada titisan Voldemort yang akan mengganggu anak-anaknya? Atau aka nada serangan balik oleh para pelahap maut?
Bagi siapa yang sudah membacanya dari buku kesatu sampai ketujuh, ini menjadi pengganjal dalam pikiran yang menerka-nerka apakah akan ada cerita lanjutannya? Lalu muncul buku kedelapan, Harry Potter and The Cruished Child, dan jujur untuk buku yang ini saya belum membacanya.
Buku ini berbeda dengan ketujuh buku lainnya yang difilmkan, buku kedelapan ini justru dibuat menjadi sebuah teater drama. Namun dalam aplikasi bernama Goodreads, saya memperhatikan rating dibawah 4.0, sedangkan ketujuh buku sebelumnya semuanya ada diatas 4.0.
2.      Buku yang terlalu tebal untuk sebuah novel
Sebelumnya saya menyebutkan bahwa dengan dengan halaman yang diatas rata-rata novel kebanyakan, sang penulis J.K. Rowling bisa memberikan improvisasi cerita yang leluasa. Namun disisi lain, buku ini kurang nyaman jika dibawa-bawa keluar Rumah.
Berbeda dengan buku yang tebal halamannya hanya kisaran 250 sampai 500 halaman yang cukup handy untuk dibaca di dalam kereta, di kafe sambil minum kopi, atau diperpustakaan. Untuk buku kesatu sampai ketiga masih cukup handy karena jumlah halamannya dibawah 600, tapi untuk buku keempat sampai ketujuh ini sudah hampir menyerupai sebuah kamus atau mungkin lebih tebal dari sebuah kamus.
3.      Penjelasan tentang latar tempat yang kurang detail
Jika kalian hanya membaca bukunya tanpa pernah sekalipun menonton filmnya atau melihat potongan scene filmnya di youtube, kalian akan sedikit kesulitan untuk mengimajinasikan latar tempatnya.
Penjelasannya justru lebih detail mengenai suasana hati Harry jika sedang mendapat masalah dan terkesan seperti Harry ini terlalu mendramatisir. Tujuannya tentu agar pembaca terbawa suasana dengan mengetahui detail tentang perasaan Harry. Namun malah terkesan seakan-akan hal ini untuk menutupi kekurangan akan detail latar tempatnya.
4.      Ketika difilmkan banyak adegan yang miss
Sebenarnya ini diluar dari novel yang saya baca. Namun ini juga menjadi kekecewaan saya ketika sudah membaca bukunya dan menonton filmnya. Sangat banyak cerita dalam novel yang tidak dimasukkan kedalam film, seperti para peri rumah yang ikut bertempur melawan pelahap maut dan alur cerita yang berubah tentang Voldemort yang seharusnya mati didalam kastil Hogwart dan disaksikan oleh penghuni Hogwart.
Bukannya takjub atau menganggap keren filmnya, tapi saya justru kecewa ketika menonton filmnya. Berbeda halnya jika kalian tidak membaca bukunya dan hanya menonton filmnya, pasti kalian akan menganggap filmnya sangat bagus dan keren.
Itu sedikit pembahasan tentang novel yang fenomenal, Harry Potter. Tentu saya bukan seorang ahli dalam menganalisa buku, ini hanya pendapat saya pribadi.

Terima Kasih 😊


 

Dunia Cerita Reynnara Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template