Cute Bow Tie Hearts Blinking Blue and Pink Pointer

Jumat, 18 Agustus 2017

Otoritas


Ini adalah suatu ‘curhat’ dari seorang yang pesimis terhadap segala macam ‘senioritas’: suatu otoritas irasional yang (di)lahir(kan) dari suatu kenaifan primitif: bahwa kekuasaan adalah sesuatu yang tak dapat diganggu-gugat, ya, kekuasaan manusia yang di-ilahiah-kan oleh manusia sendiri.

Ada dua jenis situasi otoritas:
ü1.   Otoritas Rasional
Otoritas Rasional adalah suatu pencapaian yang berasal dari kerja keras dan upaya manusia untuk mencapai kemuliaan dalam hal tertentu.
Misalnya adalah otoritas pengetahuan. Otoritas seorang guru. Untuk mencapai derajat otoritatif seorang guru, kita harus menempuh perjalanan intelektual panjang yang berliku. Itulah kenapa, secara moral, sosial, dan spiritual, Guru menempati posisi penting dalam kehidupan. Karena otoritas seorang guru berkaitan erat dengan relasi ilmu-amal (teori-praxis) seseorang. Seorang guru menjadi mulia, karena perbuatannya berdasarkan suatu prinsip yang secara ‘ilmiah’ valid. Ia menjadi otoritatif karena jeri payahnya, karena kemampuan individunya, dan kecerdasan sosialnya.
.
ü2.   Otoritas Irasional
Otoritas Irasional adalah otoritas yang terbentuk dari jalur kuasi-ilahiah, atau sebut saja, kuasi-alamiah. Misalnya otoritas qaqa-qaqa senior dalam organisasi ekstra-kampus.
Berbeda dari seorang guru, status otoritatifnya tidak diperoleh lewat kerja keras. Itulah salah satu alasan kenapa, walaupun dalam ranah kampus seorang presiden BEM  itu mempesona, di kampung halamannya tidak mesti begitu: masyarakat yang pernah mengenyam pendidikan kampus mengetahui betapa banal-nya otoritas seorang presiden atau birokrat kampus. Untuk menjadi qaqa-qaqa dalam organ ekstra, cukup ikut tradisi: sering kumpul di basecamp, jadilah ‘supel-supel’, perbanyak followers IG beserta feed-feed yang menawan hati. Nah, setelah cukup populer di ranah kampus, syukur-syukur kenal banyak organ primordial, maka anda sudah dikategorikan sebagai kandidat kuat peraih otoritas-irasional ini, Qaqa.
            .
Menyikapi dua jenis situasi otoritas ini, kita kan melihat dua ciri yang amat bertentangan. Hubungan antara guru-murid vis a vis Qaqa-Adique dalam organ ekstra murni oposisi: yang satu dalam hubungan saling cinta, toleran, dan open-minded, yang lain adalah hubungan sadistic-masokistik, intoleran, close-minded, dan yang paling penting: F A S I S.
Tak heran bila seseorang yang meraih otoritas irasional ini menganggap dirinya sebagai ‘malaikat’, karena ia sudah melalui relasi agen-pasien eksploitasi semasa dalam posisi ‘adique’.

Nah, ini adalah benih-benih militerisme, benih-benih FASISME yang nantinya akan tumbuh menjadi aktor-aktor politik oportunis dan sok-otoritatif.
(Ampun Qaqa, jangan baper ya, ini bukan untuk Qaqa senior koque, lagian aing kagak punya senior, wakwakwakwak).
 

Dunia Cerita Reynnara Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template