Ini adalah
suatu ‘curhat’ dari seorang yang pesimis terhadap segala macam ‘senioritas’:
suatu otoritas irasional yang (di)lahir(kan) dari suatu kenaifan primitif:
bahwa kekuasaan adalah sesuatu yang tak dapat diganggu-gugat, ya, kekuasaan manusia
yang di-ilahiah-kan oleh manusia
sendiri.
Ada dua
jenis situasi otoritas:
ü1. Otoritas Rasional
Otoritas
Rasional adalah suatu pencapaian yang berasal dari kerja keras dan upaya
manusia untuk mencapai kemuliaan dalam hal tertentu.
Misalnya
adalah otoritas pengetahuan. Otoritas seorang guru. Untuk mencapai derajat
otoritatif seorang guru, kita harus menempuh perjalanan intelektual panjang
yang berliku. Itulah kenapa, secara moral, sosial, dan spiritual, Guru
menempati posisi penting dalam kehidupan. Karena otoritas seorang guru
berkaitan erat dengan relasi ilmu-amal (teori-praxis)
seseorang. Seorang guru menjadi mulia, karena perbuatannya berdasarkan suatu
prinsip yang secara ‘ilmiah’ valid. Ia menjadi otoritatif karena jeri payahnya,
karena kemampuan individunya, dan kecerdasan sosialnya.
.
ü2. Otoritas Irasional
Otoritas
Irasional adalah otoritas yang terbentuk dari jalur kuasi-ilahiah, atau sebut saja, kuasi-alamiah.
Misalnya otoritas qaqa-qaqa senior
dalam organisasi ekstra-kampus.
Berbeda
dari seorang guru, status otoritatifnya tidak diperoleh lewat kerja keras. Itulah
salah satu alasan kenapa, walaupun dalam ranah kampus seorang presiden BEM itu mempesona, di kampung halamannya tidak
mesti begitu: masyarakat yang pernah mengenyam pendidikan kampus mengetahui
betapa banal-nya otoritas seorang presiden atau birokrat kampus. Untuk menjadi
qaqa-qaqa dalam organ ekstra, cukup ikut tradisi: sering kumpul di basecamp,
jadilah ‘supel-supel’, perbanyak
followers IG beserta feed-feed yang menawan hati. Nah, setelah cukup populer di
ranah kampus, syukur-syukur kenal banyak organ primordial, maka anda sudah
dikategorikan sebagai kandidat kuat peraih otoritas-irasional ini, Qaqa.
.
Menyikapi dua
jenis situasi otoritas ini, kita kan melihat dua ciri yang amat bertentangan. Hubungan
antara guru-murid vis a vis Qaqa-Adique
dalam organ ekstra murni oposisi: yang satu dalam hubungan saling cinta,
toleran, dan open-minded, yang lain adalah hubungan sadistic-masokistik,
intoleran, close-minded, dan yang paling penting: F A S I S.
Tak heran
bila seseorang yang meraih otoritas irasional ini menganggap dirinya sebagai ‘malaikat’,
karena ia sudah melalui relasi agen-pasien eksploitasi semasa dalam posisi ‘adique’.
Nah, ini
adalah benih-benih militerisme, benih-benih FASISME yang nantinya akan tumbuh
menjadi aktor-aktor politik oportunis dan sok-otoritatif.
(Ampun Qaqa, jangan baper ya, ini bukan untuk
Qaqa senior koque, lagian aing kagak punya senior, wakwakwakwak).

