Cute Bow Tie Hearts Blinking Blue and Pink Pointer

Minggu, 01 Oktober 2017

Dimabuk Fashion Filsafat

Disuatu masa, aku pernah dimabuk halusinasi filsafat. Waktu itu kusangka tengah mengoptimalkan kecerdasan, tetapi ternyata hanya bermain-main dengan lamunan.
Sebagai anak gandrung filsafat diakhir abad 20 dan abad awal 21, postmodernisme dan poststrukturalisme menjadi fashion trendy selayak celana cutbray ditahun 70an. Tak tergolong trendy bagi orang yang tidak menyandangnya.
Dekontruksi, independensi teks, nihilism, dan semacamnya adalah kerlap kerlip ornamen yang berfungsi sebagai hiasan pembangun ketrendian ketimbang pemecah persoalan.
Teori arkeologi pengetahuan – Genealogi kekuasaan memang membantu kita membuka mata tentang ketidaknetralan ilmu, tetapi Cuma nanggung mentok disitu, tak mampu jadi sengaja pamungkas atas kemelut realitas dunia.
Teori agen dan arena memang membantu kita memetakan kekuatan pihak-pihak terkait, tettapi mandeg sebatas artikel jurnal dan seminar. Sepulang seminar, mampir kembali ke pub dan karaoke, asik dalam jerat kapitalisme.
Apalagi teori Geometri music, Metafisika bunyi, Post Avant Gardisme, dan sekeranjang lainnya, cukup manis sebagai hiasan rak buku maupun rak pikiran. Hanya itu.
Sebagian pemikiran mereka, para penghalusinasi barat, menyumbang sedikit saja pada sebagian kecil detail atas kerangka global ilmu pengetahuan semesta.
Bermain-main imajinasi tentang keberadaan diri kita, tentang ada dan tiadanya realitas, pluralitas kebenaran, dll, sembari mentulikan diri dari pemikiran kritis yang ditawarkan suatu ormas yang harus dibubarkan karena konon anti pancasila.
Semua itu dilakukan hanya demi bisa tetap hidup aman, meski ketidakadilan terus tumbuh subur, meski perampokan harta rakyat oleh pemodal asing/ aseng makin leluasa.
Sudahlah, berhentilah berpura-pura menjadi ikan. Ikan sungguh tak terseret arus. Ikan sungguhan bisa berenang menuju arah yang benar. Meski harus melawan arus.
 

Dunia Cerita Reynnara Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template