Jadi, mana
yang lebih baik antara nomor 1 dan 2 ???
This is
social media, everybody can post everything that they’r want (selama itu gak merugikan
orang lain), right? :D
Dulu, aku
sempat marah tersebab sebuah perkara. Dan sakitnya masih terus terasa meski
tlah coba kulupa. Namun, sudah kuputuskan tuk hanya menjadikannya pelajaran
semata.
Baiklah,
aku ingin sedikit bercerita tentang sang perkara.
Untukmu
yang menyempatkan waktu untuk membaca, ku ucapkan terima kasih sebelumnya J
Dear you,
yang tengah membaca cerita ini,
Mungkin,
lakuku tak cukup baik. Tapi percayalah, aku selalu TAK INGIN orang lain juga
berlaku TAK BAIK.
Oya, fyi,
aku lagi gak mau bahas pilpres lho ya? :D yang punya nomor 1 dan 2 kan bukan cuma
mereka, hihi ^^
Menebar kebaikan
merupakan suatu kewajiban bukan? Meski tentu saja dengan beragam cara yang
berbeda. Ada yang menebar kebaikan melalui tingkahnya, ada yang melalui
kata-katanya, bahkan sampai ada yang melalui sosial medianya. Apapun itu,
apakah cara yang satu benar dan cara yang lainnya salah walaupun tujuan
akhirnya sama?
Gini misalnya
:
1. Ada beberapa orang have good attitudes tapi gak
cukup berani buat speak up karena khawatir tak sesuai dengan kondisi lingkungan
sekitarnya. Perhaps for their environment, kebaikan yang orang tersebut miliki
merupakan sesuatu yang tabu/ asing/ kuno. Therefore, dia memilih buat keep
kebaikan itu untuk dirinya sendiri. Apakah dia salah?
2. Ada juga orang yang punya habit gak cukup baik,
tapi dia courage buat ngasih tau lingkungannya, temennya, + orang lain mana
yang baik dan mana yang nggak baik. Karena dia ingin orang-orang
disekelilingnya better than dia. Probably you are think, “isn’t stupid?”. We haven’t
idea. Tapi, apakah dia juga salah?
Tentu yang
terbaik adalah mereka yang berperilaku baik dan berani menebarkan kebaikan yang
dipunyai untuk orang lain. Tapi kadang semuanya tak as perfect as itu, kan? J
Bukan ku
mengatakan bahwa kita harus jadi seperti yang nomor 1 atau 2, bukan ya? Justru antara
1 dan 2 adalah langkah awal kita mencipta kebaikan seutuhnya.
Menurutku,
kebaikan itu berproses dan berpendar. Aku yakin mereka yang ingin terus menjadi
lebih baik, pasti pernah menjadi yang nomor satu atau dua. Benar?
I think so.
Ketika seseorang
mendapat satu ilmu tentang kebaikan, ada yang directly mengaplikasikannya ke
diri sendiri sampai kebaikan itu tertanam didirinya, lalu baru menebarkannya ke
orang terdekat. Karena ia merasa telah mempunyai bukti atas ‘ilmu kebaikan’
yang ia dapatkan dan sudah mencontohkannya.
Meanwhile,
Ada juga
orang yang memilih langsung menebarkan kebaikan tersebut pada orang lain sambil
ia berusaha menerapkan kebaikan tersebut ke dirinya. Sedangkan, seperti yang
tadi saya katakan, kebaikan itu berproses, gak bisa ujug-ujug orang jadi baik,
dan mungkin ketika ia menebarkan kebaikan tersebut ke orang lain, ia sendiri
masih penuh cacat, karena ‘si kebaikan’ yang ia dapatkan belum tertanam
sepenuhnya didirinya.
So, if
you ask me which better between number 1 and 2. I’ll answer “I have no idea”. Salah
satu Ustad-ku pernah menjelaskan yang kurang lebih intinya :
“Jika itu
tentang kebaikan, maka setengah adalah lebih baik daripada tidak sama sekali. Tapi
jika itu tentang keburukan/ hal yang belum jelas baiknya (syubhat), maka tidak
sama sekali adalah yang terbaik.”
So,
pembaca yang budiman :D
Kalo kita
udah merasa baik, stop lah mencela mereka yang tengah berusaha menjadi baik. Percayalah,
cacian, hinaan, dan makian, bukanlah cara untuk menebar kebaikan. Ketahuilah, dengan
mencelanya, kita gak akan jadi lebih baik dari mereka yang di nomor satu atau
dua. Kadang justru karena celaan itulah, kita ‘terstempel’ tak baik bagi
mereka, meski kita pernah susah payah membangun kebaikan tersebut sebelumnya.
“Lidah
bisa lebih tajam dari belati, tapi jangan salah, ketikan jari juga bisa dengan
mudah menyayat hati.”
D.A, for
Juni 6th 2013
Note :
Mohon maaf jika sepatah dua patah dari tulisan ini juga tak mengenakkan hati
