"Badannya
kecil, tapi otak semua."
Saya
gagal mengingat siapa penuturnya. Tapi itulah kutipan yang tak mudah saya
lupakan tentang Pak Habibie. Pak Habibie adalah ensiklopedi. Rangkuman buku
secara keseluruhan. Dia lah kata dan kata-kata. Beliau menjadi subjek, predikat
sekaligus objek sebuah kalimat. Dia adalah cita-cita, profesi dan inspirasi.
Sejak
lama, tanah Bugis memang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil
sosok-sosok besar Indonesia. Di sana pernah lahir Sultan Hasanuddin. Seorang
raja yang tak hanya disegani rakyat, tapi juga dihormati musuh yang
diperanginya. Penjajah Belanda lah yang memberinya julukan hebat, Ayam Jantan
dari Timur. Dan dari tanah Bugis pula lah lahir ilmuwan besar dunia, BJ
Habibie.
Kombinasi
kecerdasan, keberanian dan ketangguhan ala pelaut Bugis-nya lah yang menyelamatkan
Indonesia dari ancaman badai yang membangkrutkan pada tahun 1998. Dollar yang
mengamuk liar mendekati dua puluh ribu, dibuat jinak menjadi enam ribu saja.
Hebatnya, itu semua dilakukannya tanpa mengorbankan rakyat. Dia menjadi yang
terdepan, membela dan melindungi rakyatnya, saat IMF meminta Indonesia mencabut
subsidi BBM dan listrik, agar ekonomi kembali pulih.
"Saya
takkan mengorbankan rakyat saya, demi apapun!" tegasnya saat itu. Sungguh
suatu sikap heroik yang memantik rasa haru.
Habibie
adalah pemimpin yang bekerja dengan gagasan yang otentik. Pesawat buatannya
(N250) adalah rancangan yang paling sempurna di dunia. Beliau sendiri mengakui,
IPTN terpaksa ditutup karena negara tak kuasa menghadapi tekanan dunia. Barat
ketakutan dengan eksistensi industri pesawat Indonesia.
Habibie
adalah simbol kemandirian Indonesia yang otentik. Indonesia kaya tidak saja
dengan kandungan alam, tapi juga manusianya. Ribuan sarjana teknik,
perindustrian dan pertambangan diwisuda tiap tahunnya. Alangkah mirisnya, jika
BUMN seperti Pertamina dan PLN tak ubahnya cuma seperti kasir, atau bahkan calo
belaka. Negara hanya menerima fee, upah jasa melayani kebutuhan rakyat terhadap
minyak bumi dan gas alamnya. Asing dan aseng lah yang mengolah dan
mengelolanya. Kemana mereka semua, sarjana-sarjana yang ribuan tersebut?
Kenapa
negara butuh guru dan rektor asing. Kenapa harus impor otak? Kenapa negara ini
minder dan begiru rendah percaya dirinya?
Habibie
telah membuktikan bahwa Indonesia mampu. Kelebihan Einstein cuma soal umur. Dia
hidup lebih dulu ketimbang Habibie. Jika negara optimis dan percaya diri,
sangat mungkin kelak dunia akan berpaling. Rujukan akan berpindah pada daerah
dan negara tempat lahir Habibie, bukan lagi Einstein. Saya berharap dan
bermimpi, kelak akan ada artikel dan headline berita dunia yang berjudul
Habibie dari Selatan, Habibie dari Barat dan sebagainya. Tidak lagi seperti
judul tulisan ini.
Sekarang
beliau telah mendahului kita. Mestinya kehilangan ini menampar telak dan
mencakar-cakar wajah Indonesia. Persembahannya bagi Indonesia adalah yang
terbaik dan otentik. Dan wujudnya adalah pesawat. Bukan mobil impor rakitan,
hasil jiplakan dengan rem yang blong pula.
Selamat
Jalan, Pak Habibie! Semoga mendapat tempat terbaik di sisi-NYA. Allahumaghfirlahu,
warhamhu, wa'afihi, wa'fu'anhu! Aamiin...!

