Cute Bow Tie Hearts Blinking Blue and Pink Pointer

Senin, 16 September 2019

EINSTEIN DARI TIMUR



"Badannya kecil, tapi otak semua."

Saya gagal mengingat siapa penuturnya. Tapi itulah kutipan yang tak mudah saya lupakan tentang Pak Habibie. Pak Habibie adalah ensiklopedi. Rangkuman buku secara keseluruhan. Dia lah kata dan kata-kata. Beliau menjadi subjek, predikat sekaligus objek sebuah kalimat. Dia adalah cita-cita, profesi dan inspirasi.

Sejak lama, tanah Bugis memang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil sosok-sosok besar Indonesia. Di sana pernah lahir Sultan Hasanuddin. Seorang raja yang tak hanya disegani rakyat, tapi juga dihormati musuh yang diperanginya. Penjajah Belanda lah yang memberinya julukan hebat, Ayam Jantan dari Timur. Dan dari tanah Bugis pula lah lahir ilmuwan besar dunia, BJ Habibie.

Kombinasi kecerdasan, keberanian dan ketangguhan ala pelaut Bugis-nya lah yang menyelamatkan Indonesia dari ancaman badai yang membangkrutkan pada tahun 1998. Dollar yang mengamuk liar mendekati dua puluh ribu, dibuat jinak menjadi enam ribu saja. Hebatnya, itu semua dilakukannya tanpa mengorbankan rakyat. Dia menjadi yang terdepan, membela dan melindungi rakyatnya, saat IMF meminta Indonesia mencabut subsidi BBM dan listrik, agar ekonomi kembali pulih.

"Saya takkan mengorbankan rakyat saya, demi apapun!" tegasnya saat itu. Sungguh suatu sikap heroik yang memantik rasa haru.

Habibie adalah pemimpin yang bekerja dengan gagasan yang otentik. Pesawat buatannya (N250) adalah rancangan yang paling sempurna di dunia. Beliau sendiri mengakui, IPTN terpaksa ditutup karena negara tak kuasa menghadapi tekanan dunia. Barat ketakutan dengan eksistensi industri pesawat Indonesia.

Habibie adalah simbol kemandirian Indonesia yang otentik. Indonesia kaya tidak saja dengan kandungan alam, tapi juga manusianya. Ribuan sarjana teknik, perindustrian dan pertambangan diwisuda tiap tahunnya. Alangkah mirisnya, jika BUMN seperti Pertamina dan PLN tak ubahnya cuma seperti kasir, atau bahkan calo belaka. Negara hanya menerima fee, upah jasa melayani kebutuhan rakyat terhadap minyak bumi dan gas alamnya. Asing dan aseng lah yang mengolah dan mengelolanya. Kemana mereka semua, sarjana-sarjana yang ribuan tersebut?

Kenapa negara butuh guru dan rektor asing. Kenapa harus impor otak? Kenapa negara ini minder dan begiru rendah percaya dirinya?

Habibie telah membuktikan bahwa Indonesia mampu. Kelebihan Einstein cuma soal umur. Dia hidup lebih dulu ketimbang Habibie. Jika negara optimis dan percaya diri, sangat mungkin kelak dunia akan berpaling. Rujukan akan berpindah pada daerah dan negara tempat lahir Habibie, bukan lagi Einstein. Saya berharap dan bermimpi, kelak akan ada artikel dan headline berita dunia yang berjudul Habibie dari Selatan, Habibie dari Barat dan sebagainya. Tidak lagi seperti judul tulisan ini.

Sekarang beliau telah mendahului kita. Mestinya kehilangan ini menampar telak dan mencakar-cakar wajah Indonesia. Persembahannya bagi Indonesia adalah yang terbaik dan otentik. Dan wujudnya adalah pesawat. Bukan mobil impor rakitan, hasil jiplakan dengan rem yang blong pula.

Selamat Jalan, Pak Habibie! Semoga mendapat tempat terbaik di sisi-NYA. Allahumaghfirlahu, warhamhu, wa'afihi, wa'fu'anhu! Aamiin...!

 

Dunia Cerita Reynnara Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template