Cute Bow Tie Hearts Blinking Blue and Pink Pointer

Sapardi Djoko Damono


”Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”

Untuk teman-teman para pecinta sastra, tentunya sudah tak asing lagi dengan kutipan puisi diatas ya? Kata-katanya yang sederhana membuat puisi ini mudah untuk dipahami namun tetap menyentuh hati dan seketika mampu masuk menelusup ke dalam nurani. Hehe. Begitulah yang Reyn rasakan setiap membaca sajak-sajak salah satu sastrawan terkenal negeri ini. Yaps, siapa lagi jika bukan beliau Sapardi Djoko Damono atau yang biasa disingkat dengan SDD. 
Beliau adalah salah satu karunia Allah untuk bangsa Indonesia. Oleh karena itu ‘menurut Reyn’ adalah sebuah hal penting untuk kita (-para generasi muda bangsa-) mengetahui siapa Bapak Hujan Bulan Juni ini. So, izinkan Reyn memperkenalkan beberapa hal tentang beliau kepada teman-teman tersayang yah? ^^

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, lahir di Kampung Baturono, Surakarta pada tanggal 20 Maret 1940 (kalau kita hitung, sekarang ini usia beliau sekitar 77 tahun). Beliau  merupakan anak sulung dari pasangan Sadyoko dan Sapariah. Berdasarkan Kalender Jawa, Sapardi lahir tepat pada bulan Sapar. Mungkin atas dasar itulah orangtuanya memberinya nama Sapardi. Ibunya juga lahir di bulan yang sama sehingga tak heran jika ibunya kemudian bernama Sapariah. Menurut kepercayaan orang Jawa, orang yang lahir di bulan Sapar kelak akan menjadi sosok yang pemberani dan teguh dalam keyakinan.

Sapardi tinggal di Ngadijayan, kampungnya Pangeran Hadiwijaya, kira-kira 500 meter dari W.S. Rendra dan B. Sutiman yang tinggal di Kampung Patangpuluhan, dan sekitar 500 meter dari Bakdi Soemanto dan Sugiarta Sriwibawa yang tinggal di Kampung Kratonan (ketika itu beliau sama sekali tidak mengenal “calon-calon” penyair tersebut). Beliau bersekolah di Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar) Kraton “Kasatriyan”, disana beliau bergaul dengan para putra pangeran. Sementara di rumah, beliau menikmati kehidupannya sebagai anak kampung yang menghabiskan masa kecilnya dengan bermain benthik, gobaksodor, dhelikan, jamuran, cari belut, main jailangkung, adu jangkrik, main kelereng, main layang-layang, dan bal-balan di gang sempit atau di Alun-alun Selatan. Berkecamuknya perang kemerdekaan yang berlangsung sampai dengan tahun 1949, membuat Sapardi terbiasa melihat pesawat yang menjatuhkan bom dan membakar rumah-rumah besar .

Dalam bukunya, Sapardi mengisahkan bahwa awalnya kehidupan keluarga dari pihak ibunya terbilang berkecukupan, namun nasib manusia memang bak roda pedati yang terus berputar, kadang diatas kadang dibawah, demikian halnya dengan keluarga Sapardi. Saat Sapardi kecil hadir keadaan pun berubah, mereka harus menjalani hidup yang sulit. Masih terngiang dalam ingatan Sapardi, saking susahnya beliau hanya makan bubur setiap pagi dan sore. Untuk menafkahi keluarganya, ibunda Sapardi, Sapariah, berjualan buku. Sementara ayahnya, Sadyoko, memilih hidup mengembara dari satu desa ke desa lain untuk menghindari kejaran tentara Belanda yang kala itu kerap menangkapi kaum laki-laki. Sang ayah memang bukan seorang pejuang, tapi tentara Belanda kala itu berpikir tentara itu kebanyakan laki-laki.

Pak Sadyoko pada awalnya bekerja sebagai abdi dalem di Kraton Kasunanan, mengikuti jejak kakeknya. Setelah menikah, beliau menjadi pegawai negeri sipil di Jawatan Pekerjaan Umum. Sementara sang kakek, selain bekerja sebagai abdi dalem Kasunanan Raja Kasunanan Surakarta, 1893-1939 Surakarta, beliau juga punya keahlian menatah wayang kulit. Sapardi dan adiknya, Soetipto Djoko Sasono, mendapatkan seperangkat wayang kulit karya kakeknya sendiri. Tidaklah heran jika Sapardi bisa sedikit-sedikit memainkan wayang. Sayangnya, akibat zaman yang kacau, wayang itu tidak bisa terawat dengan baik.

Tahun 1943, keluarga Sadyoko memutuskan untuk memisahkan diri dari keluarga kakeknya. Saat itu kekuasaan atas Indonesia telah berpindah dari tangan Belanda ke Jepang. Mereka kemudian menyewa sebuah rumah di kampung Dhawung. Ketika itu, sang ibu hampir saja direkrut pasukan Jepang untuk menjadi prajurit. Beruntung beliau bisa selamat dari perekrutan itu karena tengah mengandung adik Sapardi, Soetjipto.

Setelah Jepang menyerah pada sekutu tahun 1945, keluarga Sadyoko pindah ke Ngadijayan. Di desa itu Sapardi dan keluarganya tinggal di rumah orangtua dari pihak ibu. Rumah itu sangat luas. Tapi sayangnya sang kakek tak bisa menata hidup dengan baik hingga akhirnya rumah itu digadaikan tanpa bisa ditebus hingga akhir hayatnya. Tindakan sang kakek tidak diberitahukan kepada putra putrinya apalagi cucu-cucunya. Setelah kakeknya meninggal, rumah itu dilelang dengan harga rendah. Uang hasil penjualan dibagi pada tiga orang anaknya, yakni ibu Sapardi dan dua orang pamannya.

Pada tahun 1957, sang ayah memutuskan untuk meninggalkan Ngadijayan dan pindah ke sebuah kampung bernama Komplang. Sapardi menafsirkan, pilihan ayahnya untuk pindah itu merupakan usaha untuk bisa mendapatkan tanah yang luas dan suasana yang lebih tenang.

Di tempat tinggalnya yang baru, saat itu belum ada listrik. Keadaan desa pun waktu itu masih sangat sepi, sehingga sempat menimbulkan perasaan aneh di hati Sapardi. Sebab, di kampung tempatnya tinggal sebelumnya, Ngadijayan, Sapardi kerap keluyuran untuk menonton pagelaran wayang kulit. Namun lambat laun, Sapardi mulai terbiasa dengan keadaan yang jauh berbeda itu. Meski demikian, beliau memutuskan untuk lebih banyak tinggal di rumah. “Mungkin karena suasana yang ‘aneh’ itu menyebabkan saya memiliki waktu luang yang banyak dan ‘kesendirian’ yang tidak bisa saya dapatkan di tengah kota,” kata Sapardi.

Walaupun memutuskan untuk lebih banyak tinggal di rumah dan menikmati ‘kesendirian’, hobi keluyurannya tak lantas berhenti begitu saja. Namun, ‘keluyuran’-nya kali ini bukan dalam arti fisik di dunia nyata melainkan dalam dunia batinnya sendiri.

Sambil menikmati masa ‘kesendirian’-nya itu, Sapardi mulai menulis puisi. “Saya belajar menulis pada bulan November 1957,” ucapnya. Sebulan setelah belajar menulis, karyanya berupa sajak dimuat di majalah kebudayaan yang terbit di Semarang. Tahun berikutnya, sajak-sajaknya mulai bermunculan di berbagai halaman penerbitan yang antara lain diasuh oleh HB. Jassin.

Kegairahan menulis didapat Sapardi dari hobinya membaca. Sejak kecil Sapardi memang sangat menyukai buku-buku petualangan. Ia pun sangat menyukai karangan Karl May, William Saroyan, dan TS Eliot. Menurut Sapardi yang kala itu duduk di kelas 2 SMA, buku-buku mereka sangat populer di kalangan remaja yang suka membaca. 

Untuk ukuran seorang pelajar SMA, buku drama puisi karya Eliot sebenarnya tidak terlalu gampang dicerna. Oleh karena itu Sapardi mengakui bahwa beliau hanya bisa memahami sekitar 25% saja, atau mungkin kurang dari itu. Sapardi memang orang yang memiliki rasa ingin tahu cukup besar. Untuk memuaskan rasa ingin tahunya, beliau tak hanya membaca buku tapi juga membaca gejala-gejala alam.

Salah satu karya terjemahan Sapardi, Murder in Cathedral karangan TS Eliot yang bernuansa “Kristiani” sempat memunculkan dugaan bahwa Sapardi yang muslim menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Katolik. Tapi dugaan itu ternyata tidak benar, Sapardi tidak pernah masuk sekolah Katolik. Beliau mengaku waktu kecil memang sering ikut Sekolah Minggu, akan tetapi beliau hanya main-main saja karena beliau memang suka keluyuran.

Di samping itu, menurut pengakuan seorang guru besar Universitas Atmajaya, ketika menjadi mahasiswa, Sapardi memiliki hubungan dekat dengan Pater Theodorus Geldorp SJ atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pater Dick Hartoko. Kedekatan hubungan mereka terjadi pada saat Pater Dick menjabat sebagai pemimpin redaksi dimajalah kebudayaan Basis dan Sapardi mengasuh rubrik puisi dimajalah tersebut. Pada peringatan satu tahun wafatnya Pater Dick, Sapardi memberikan uraian kenangannya yang berkaitan dengan kedekatan hubungan itu. Bahkan dalam menyelesaikan skripsinya tentang Murder in the Cathedral, beliau mendapatkan pinjaman mesin tik dari Pater Dick.

Dugaan yang mengatakan bahwa Sapardi pernah bersekolah di sekolah Katolik menurut Sapardi mungkin didasari kumpulan puisi dalam buku “Duka-Mu Abadi” yang terbit di tahun 1969. Karena puisi-puisi dalam buku itu banyak menyajikan imaji-imaji yang menimbulkan asosiasi kekristenan.

Namun pada kenyataannya, Sapardi masuk Sekolah Dasar Kasatrian, yakni sekolah dasar yang khusus diperuntukan bagi kaum laki-laki para kerabat Kraton. Meski berdarah ningrat, jejak-jejak keningratan tidak tampak pada perilaku dan karya-karyanya. Ini menunjukkan sekolah itu hanya memberikan pendidikan formal saja. Bedanya, di sekolah itu Sapardi mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan menabuh gamelan dan menari tari Jawa. Meski demikian, yang tampak sejak SMA, Sapardi lebih suka main gitar daripada alat musik tradisional Jawa.

Setamat SD, beliau melanjutkan pendidikannya ke SMP II di wilayah Mangkunagaran. Kemudian melanjutkan SMA II di Margoyudan. Ketika SMA, Sapardi menjalin pertemanan dengan Jeihan Sukmantoro yang kini dikenal sebagai pelukis ekspresionistik Indonesia terkemuka. Jeihan adalah salah seorang pengelola majalah dinding dimana Sapardi sering mengisi majalah dinding itu. Persahabatan itu masih terjalin hingga kini. Bahkan beberapa kegiatan puisinya didanai oleh Jeihan. Pada pameran lukisan Jeihan di Jakarta, 29 Juli 2005 , Jeihan mempersembahkan sebuah patung Sapardi telanjang yang khusus diciptakannya.

Tak hanya bersahabat dengan sang pelukis, Sapardi juga memiliki bakat melukis. Lukisannya bahkan pernah dilelang untuk amal bersama dengan beberapa pelukis lain, di antaranya Danarto. Selain bakat melukis, beliau juga berbakat menjadi seorang sutradara. Pentas drama yang pernah ditanganinya antara lain “Petang di Taman” karya Iwan Simatupang. Di samping menjadi tokoh di balik layar, beliau juga pernah beberapa kali tampil sebagai pemain saat tergabung dalam ”Teater Rendra” pimpinan WS Rendra.

Setamat SMA beliau melanjutkan studinya di Jurusan Sastra Barat Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada (UGM). Catatan tersebut menunjukan Sapardi tidak pernah sama sekali masuk sekolah Katolik. Istilah-istilah yang lekat dengan umat Nasrani seperti Yesus, Golgota, Qain, dan Abil dalam karyanya diduga hanya didapatnya dari buku-buku bacaan.

Sapardi menyelesaikan studi di Jurusan Sastra Barat (-sekarang Jurusan Sastra Inggris) pada tahun 1964. Sementara bukunya “Duka-Mu Abadi” ditulis pada 1967 dan 1968. Ini artinya, Sapardi sudah melewati pergulatan lebih intens dengan ”Murder in the Cathedral” yang menjadi objek materi skripsinya. Seperti judulnya, lakon itu mengisahkan pembunuhan seorang uskup yang bernama Becket. Dari hal itu bisa dibayangkan bahwa cerita tersebut sarat dengan nuansa Kristiani. Untuk kepentingan penulisan sikripsinya itu, sudah pasti dibutuhkan pengetahuan yang cukup. Itu sebabnya Sapardi dipaksa tidak hanya membaca tapi mempelajari kitab suci, yang mungkin tidak hanya Injil tapi juga kitab-kitab dari agama lain.

Sebagai mahasiswa yang gemar berkesenian, Sapardi sering pula mengisi acara semacam puisi. Beliau sering ditemani sahabat-sahabatnya yang memiliki kecintaan seni yang sama di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM. Mereka antara lain Ramli Leman Soemowidagdo, Rachmat Djoko Pradopo, Niniek Koesoemowardhani, Widiati Saebani, Lastri Fardani, dan Ninies C.M Tri Sudarsi Widagdo.

Sapardi bisa dibilang sebagai seorang gitaris yang handal juga. Beliau bermain band tatkala di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM. Budayawan, Novelis, Cerpenis, Dosen Umar Kayam pernah bercerita bahwa saat masih menjadi Dekan di Fakultas Sastra UI, Sapardi selalu membawa gitar ke kantornya.

Dari berbagai kemampuannya di bidang seni, mulai dari menari, bermain gitar, bermain drama, dan sastrawan, tampaknya bidang sastralah yang paling menonjol dimilikinya. Beliau dikenal sebagai Penyair Legendaris Indonesia dan penyair papan atas, tak hanya di dalam negeri tetapi juga di dunia internasional. Sajak-sajaknya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia, termasuk bahasa Jawa.

Beberapa di antaranya menjadi lirik lagu-lagu cinta yang sering dinyanyikan paduan suara kelompok terkemuka pada pesta penikahan, bahkan hingga ke Amerika. Salah satu sajaknya yang berjudul “Pilgrimage” (Suddenly the Night, 1988: 13) yang merupakan terjemahan dari “Ziarah” (duka-Mu abadi, 1975:30-31) pernah dikutip dalam suatu konferensi internasional oleh Narasima Rao, yang merupakan Perdana Menteri India. Beberapa sajaknya yang lain sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan dimasukkan ke dalam antologi puisi dunia.

Di dunia akademisi, pria berkacamata ini adalah seorang guru besar ilmu sastra yang beberapa periode menjabat sebagai Pembantu Dekan I, Dekan, serta Ketua Program Pascasarjana yang semuanya dalam lingkup Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Sapardi sering memberikan pengarahan kepada mahasiswanya bagaimana cara membacakan puisi yang baik.

Dalam kegiatannya sebagai akademisi, Sapardi juga merupakan seorang penjelajah. Setelah awalnya beliau mengambil kuliah di Jurusan Sastra Barat, Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM, tapi perhatiannya pada Sastrawan, Pendiri PDS H.B. Jassin sastra Indonesia juga sangat besar. Kepada dunia sastra akademik, Sapardi memang menunjukkan minat yang tinggi. Minat itu semakin tampak dengan didirikannya sebuah organisasi para sarjana sastra yang diberi nama Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (Hiski) yang kegiatannya antara lain menyelenggarakan seminar di berbagai kota di seluruh Indonesia. Dalam perjalanannya, Hiski ini telah berhasil memberdayakan para sarjana kesusastraan Indonesia.

Dalam proses menulis, Sapardi termasuk pengarang yang memulai tulisannya tanpa diawali ide atau dorongan hati, tapi karena begitu saja. Biasanya, entah bagaimana beliau tiba-tiba menggoreskan penanya atau mengetik beberapa kata pada kertas atau pada layar monitor, baru kemudian ia mengembangkannya. Tetapi yang jelas, dari mana pun dan bagaimanapun beliau memulai tulisannya, daya cipta Sapardi akan muncul apabila beliau berada dalam suatu suasana tertentu.

Dalam tulisan ‘Permainan Makna’ (Sihir Rendra, 1999:255-273) dikatakan oleh Sapardi, “Ternyata, kemudian, masa kecil yang sama sekali tidak istimewa itu menjadi sumber bagi sebagian puisi saya, setidaknya bisa dikatakan bahwa beberapa sajak yang saya sukai mengingatkan saya pada masa kecil tersebut”. Dari kalimat yang diucapkannya itu terlihat bahwa Sapardi ternyata sangat tertarik dengan kehidupan batinnya sendiri. Masa kecil rupanya menjadi sumber kreativitasnya.

Seperti saat pertama kali beliau mengirimkan sebuah karangan berupa cerita ke sebuah majalah anak-anak berbahasa Jawa bernama ‘Taman Putra’ yang merupakan suplemen untuk majalah berbahasa Jawa terkenal bernama ‘Penyebar Semangat’ yang redaksinya adalah seorang tokoh jurnalistik terkenal bernama Subagio Imam Notodidjojo (Pak SIN).

Dalam cerita yang dikirimkannya, Sapardi mengisahkan salah satu peristiwa masa kecilnya, namun sayang karangan itu ditolak. Menurut Pak SIN, cerita itu tidak masuk akal. Tentu saja penolakan itu membuat Sapardi kecewa. Tapi yang lebih penting menurutnya adalah secara tidak langsung untuk pertama kalinya ia ‘diberi tahu’ dan selanjutnya menyadari bahwa ada peristiwa dalam hidupnya yang tak masuk akal.

Cerita yang ditulis Sapardi itu mengisahkan ketika beliau dan adiknya dilepas ibunya untuk pergi menginap bersama sang ayah di rumah ibu tirinya. Semua berjalan biasa saja, tapi ternyata cerita itu dikatakan tidak masuk akal. Padahal Sapardi menegaskan tulisan itu dibuat apa adanya tanpa dilebih-lebihkan.

Pak SIN ternyata lebih percaya bahwa cerita anak-anak yang baik adalah yang masuk akal. Padahal menurut Sapardi, bukan hanya cerita, melainkan hidup dan peristiwa dalam kehidupan yang fantastis yang justru sangat menarik, indah, dan sangat bagus luar biasa. Lebih penting lagi, kisah-kisah fantastis itulah yang bisa merangsang daya imajinasi anak-anak untuk lebih gemar membaca, belajar dan melakukan penjelajahan untuk memperkaya pengetahuan dan memperluas wawasannya, serta mendewasakan hidup batinnya. Seperti kisah para penemu, ide-ide mereka pada awalnya dianggap tidak masuk akal namun dikemudian hari ini ide mereka dapat berguna bagi kehidupan banyak orang di seluruh dunia.

Mungkin sebagian orang menduga, sangat sulit diterima akal sehat jika ada seorang ibu yang melepaskan anak-anaknya untuk menginap di rumah ibu tiri. Karena pada umumnya istri pertama sangat benci pada istri kedua, demikian juga sebaliknya. Suami mereka jadi rebutan. Akan tetapi tidak demikian dengan ibu Sapardi, Sapariah. Sang bundanya itu bahkan berkata pada Sapardi yang merupakan anak sulung, “Biarkan saja ayahmu. Nanti kalau sudah ‘waras’ akan kembali pulang.” Di sini letak kesabaran dan keagungan ibu Sapariah.

Bagi perempuan masa kini, apalagi mereka yang disebut Dosen studi feminisme dan filsafat kontemporer di Universitas Indonesia feminisme, sikap ibu Sapariah itu akan sangat disayangkan oleh sesama kaumnya. Akan tetapi segi positifnya, Ibu Sapariah telah mendidik Sapardi untuk memahami makna kesabaran dan makna menahan diri. Kesabaran untuk selalu menahan diri itulah yang akhirnya menjadi kekuatan luar biasa yang mengantarkan Sapardi menjadi salah seorang Penyair Legendaris Indonesia.

Menanggapi penolakan itu, beliau hanya menulis “Bagi saya, cerita tersebut pernah benar-benar terjadi, tidak peduli apakah cerita itu masuk akal atau tidak.” Tampaknya, penolakan cerita karyanya tidak membuat Sapardi bergeming. Tapi, itu menumbuhkan suatu sikap baginya yang kemudian tampaknya menjadi semacam pandangan dunianya. Ini yang kemudian menjadi salah satu motor penggerak penulisan karyanya, terutama puisi.

Tanpa disadari, Pak SIN telah ikut menggembleng Sapardi. Mungkin Pak SIN dengan pandangannya yang demikian tidak sendirian, beliau hanya mewakili tokoh jurnalistik  dizamannya. Pak SIN telah menempatkan diri sebagai seorang pendidik yang menerapkan cara berpikir sebagaimana guru-guru sekolah dasar dan SMP yang harus mendidik murid-muridnya berpikir logis. Itu pula yang kemudian mengajarkan kepada Sapardi bahwa kenyataan dalam hidup tidaklah nalar, tidak masuk akal, dan tidak logis. Hal-hal yang dipandang logis adalah yang muncul dari rumusan logika yang rasional.

“Kemudian saya berpikir, barangkali dunia nyata boleh tidak masuk akal, tetapi dunia rekaan harus masuk akal. Dunia nyata lebih tidak masuk akal dibandingkan dunia rekaan. Segala peristiwa dalam dunia nyata terjadi begitu saja tanpa rancangan pasti sebelumnya, tetapi rangkaian peristiwa dalam dunia rekaan harus diatur sedemikian rupa agar jelas. Sebab, akibatnya agar masuk akal. Dengan demikian, dunia nyata harus diedit agar menjadi dunia rekaan. Hidup ini harus melalui proses pengguntingan, pemolesan, penghapusan, pemilihan dan penyusunan kembali agar bisa diterima sebagai cerita. Meskipun saya belum berpikir sejauh itu, sudah sepantasnya kalau waktu itu saya sama sekali tidak berusaha lagi menulis cerita. Saya merasa lebih tenteram menjalani yang tak masuk akal, setiap hari bermain-main dengan teman sebaya…” (Sihir Rendra, 1999:258)

Dengan mempersoalkan yang masuk akal dan yang tak masuk akal, Sapardi memisahkan antara puisi dan cerita. Jika orang menulis narasi yang tak masuk akal, segera muncul kritik, tetapi dalam puisi, hal-hal yang tidak masuk akal tidaklah mendapat gubrisan. Demikian kesan Sapardi terhadap kritik sastra kita selama ini. Itulah sebabnya, pada awal kariernya, sejak kasus Taman Putra, Sapardi tidak menulis cerita.

Karena ingin tentram di dunianya yang tak masuk akal, maka beliau memilih puisi. Dunia dan suasana masa kecilnya menjadi bagian penting dalam sajak-sajak yang disukainya. Di sana, dalam dunia dan suasana anak-anak itu, bermunculanlah peristiwa-peristiwa murni yang kebanyakan tidak masuk akal seperti yang pernah beliau tulis sewaktu kecil.

Pada tahun 2001, melalui sebuah surat Sapardi mengatakan kepada salah satu penyair perempuan Indonesia, Dorothea Rosa Herliany, “Bagi saya, garis pemisah antara ketiga jenis karangan ini (yang dimaksudkannya adalah puisi, cerita dan esai) tidak pernah pasti. Selalu bergeser ke sana-sini, itulah hakikat kebebasan kreativitas yang saya kira…” (“Semacam Pengantar” dalam Sapardi Djoko Darmono, Pengarang Telah Mati, 2001:ix).

Ini menunjukkan bahwa kemerdekaan dan kebebasan kreativitas sangat penting bagi Sapardi. Walaupun beliau berkali-kali menegaskan bahwa dalam penulisan puisi, cerita maupun yang lain senantiasa dibacanya kembali berulang-ulang sebelum dinyatakan “jadi”, beliau juga mengakui bahwa dalam proses penciptaan ada sesuatu yang tak sepenuhnya bisa dikendalikannya sendiri.

Dalam perjalanan hidup dan karier Sapardi, beliau menikah dengan seorang perempuan dari Salatiga setelah tamat dari Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM. Istrinya adalah teman satu jurusannya di UGM. Selanjutnya, beliau pun menjadi dosen di Madiun, Solo dan Semarang. Di sela-sela kesibukannya itu, beliau juga sempat belajar di Amerika Serikat. Setelah itu, pada tahun 1973, beliau menetap di Jakarta yang pada tahun itu juga, beliau diminta Australian Film untuk membantu membuat film semi dokumenter mengenai dampak modernisasi bagi kehidupan keluarga di Bali dan Solo, masing-masing selama dua bulan.

Beliau  pernah mondar-mandir Jakarta-Semarang selama hampir dua tahun karena mengajar di Universitas Diponegoro dan menjadi Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia. Sembari bekerja di majalah Horison, beliau kemudian menjadi pengajar tetap di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya) Universitas Indonesia.

Sapardi juga pernah tercatat sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta dan pelaksana harian Pusat Dokumentasi Sastrawan HB Jassin. Pria yang rajin melakukan medical check-up ini bahkan pernah menjadi pengurus RT. Di samping pernah menjadi anggota redaksi majalah kebudayaan Basis yang terbit di Jogja, beliau pernah pula menjadi country editor untuk majalah Tenggara, yakni sebuah jurnal sastra Asia Tenggara yang terbit di Kuala Lumpur. 

Tugas lain yang pernah diembannya adalah menjadi koresponden untuk Indonesian Circle, sebuah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London. Lepas dari Horison, beliau membantu Kalam yang merupakan sebuah jurnal kebudayaan. Bersama Budayawan, Novelis, Cerpenis, Dosen Umar Kayam, Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Mohamad, dan John McGlynn, Sapardi mendirikan Yayasan Lontar yang lebih banyak menerbitkan karya Sastrawan, Pendiri PDS H.B. Jassin sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Beliau pun memprakarsai berdirinya Yayasan Puisi dan menerbitkan Jurnal Puisi.

Sapardi menyadari bahwa sajak dan ceritanya tidak bisa menopang hidupnya secara ekonomi. Namun, dengan karya kreatifnya, Sapardi bisa melanglang buana. Di samping itu, beberapa puisinya yang sering dinyanyikan pada pesta pernikahan, muncul di kartupos, kalender, poster, T-shirt, bloknot, topi pet dan kue. Ini membuatnya bahagia. Karya-karyanya dikenal tidak hanya di dalam negeri, tapi sudah mendunia. Salah satu buktinya adalah Perdana Menteri India, Narashima Rao pernah mengutip sajaknya yang berjudul “Pilgrimage” (terjemahan puisi “Ziarah”) dalam suatu pidato pada KTT Non-Blok. Hal itu jelas menjadi hal yang membahagiakan bagi Sapardi.

Sapardi tak hanya sastrawan, beliau juga seorang pemikir dan kritikus sastra. Sapardi juga dikenal luas sebagai seorang penerjemah sastra yang piawai. Walaupun mungkin pada mulanya itu sekadar kegemaran, kemudian berkembang menjadi semacam profesi. Tapi mengenai hal yang satu ini, beliau mengatakan imbalan penerjemahan di Indonesia terlalu kecil. Hasil terjemahannya antara lain adalah: Puisi Klasik Cina, Puisi Parsi Klasik, Puisi Brazilia Modern, Serpihan Sajak George Seferis, Mendorong Jack Kunti-kunti, Sepilihan Sajak Australia, Afrika yang Resah, Lelaki tua dan Laut (karya Hemingway), Daisy Manis (karya Henry James), kumpulan cerita pendek karya Albert Wendt dari Samoa, Tiga Sandiwara Ibsen, Duka Cita bagi Electra (lakon karya Eugene O’Neill), Shakuntala, dan Amarah (The Grapes of Wrath karya John Steinbeck).

Beberapa karya terjemahannya ada yang belum sempat dibukukan. Tetapi sudah diterbitkan di majalah atau sudah dimainkan di beberapa tempat, antara lain: Pembunuhan di Katedral (karya T.S Eliot); Singa dan Permata (karya Wole Soyinka); Brown sang Dewa Agung (sebuah lakon karya O’Neil); Asap Musim Panas (karya Tenesee Williams); dan Di Bawah Langit Afrika (kumpulan cerpen).

Para pengamat menilai sajak-sajak Sapardi dekat dengan Tuhan dan kematian. “Pada Sapardi, maut atau kematian dipandang sebagai bagian dari kehidupan, bersama kehidupan itu pulalah maut tumbuh,” tulis Jakob Sumardjo dalam harian Pikiran Rakyat, 19 Juli 1984. Sebuah karya besar yang pernah beliau buat adalah kumpulan sajak yang berjudul Perahu Kertas yang memperoleh penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta. Lalu  kumpulan sajak Sihir Hujan yang ditulisnya ketika ia sedang sakit  juga berhasil memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia. Kabarnya, hadiah sastra berupa uang sejumlah Rp 6,3 juta saat memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia langsung dibelanjakannya untuk memborong buku. Selain itu beliau juga pernah memperoleh penghargaan SEA Write pada 1986 di Bangkok, Thailand.

Bekas anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini juga menulis esai dan kritik sastra. Beliau berpendapat, di dalam karya sastra ada dua segi, yakni tematik dan stilistik (gaya penulisan). “Secara gaya, sudah ada pembaruan di Indonesia. Tetapi di dalam tema, belum banyak yang berubah di Indonesia.” Beliau patut dihargai sebagai orang yang melahirkan bentuk sastra baru. Sumbangsih Sapardi cukup besar kepada budaya dan sastra, dengan melakukan penelitian, menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan aktif sebagai administrator dan pengajar, serta menjadi dekan Fakultas Sastra UI periode 1995-1999. Beliau juga menjadi penggagas pengajaran mata kuliah Ilmu Budaya Dasar di fakultas sastra.

Berikut adalah karya-karya SDD (berupa kumpulan puisi), serta beberapa esai.

Fiksi (Puisi dan Prosa)
  • "Duka-Mu Abadi", Bandung (1969)
  • "Lelaki Tua dan Laut" (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
  • "Mata Pisau" (1974)
  • "Sepilihan Sajak George Seferis" (1975; terjemahan karya George Seferis)
  • "Puisi Klasik Cina" (1976; terjemahan)
  • "Lirik Klasik Parsi" (1977; terjemahan)
  • "Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak" (1982, Pustaka Jaya)
  • "Perahu Kertas" (1983)
  • "Sihir Hujan" (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
  • "Water Color Poems" (1986; translated by J.H. McGlynn)
  • "Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (1988; translated by J.H. McGlynn)
  • "Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
  • "Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia" (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
  • "Hujan Bulan Juni" (1994)
  • "Black Magic Rain" (translated by Harry G Aveling)
  • "Arloji" (1998)
  • "Ayat-ayat Api" (2000)
  • "Pengarang Telah Mati" (2001; kumpulan cerpen)
  • "Mata Jendela" (2002)
  • "Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?" (2002)
  • "Membunuh Orang Gila" (2003; kumpulan cerpen)
  • "Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an)" (2005; salah seorang penyusun)
  • "Mantra Orang Jawa" (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)
  • "Before Dawn: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (2005; translated by J.H. McGlynn)
  • "Kolam" (2009; kumpulan puisi)
  • "Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita" (2012)
  • "Namaku Sita" (2012; kumpulan puisi)
  • "The Birth of I Lagaligo" (2013; puitisasi epos "I La Galigo" terjemahan Muhammad Salim, kumpulan puisi dwibahasa bersama John McGlynn)
  • "Hujan Bulan Juni: Sepilihan Sajak" (edisi 1994 yang diperkaya dengan sajak-sajak sejak 1959, 2013; kumpulan puisi)
  • "Trilogi Soekram" (2015; novel)
  • "Hujan Bulan Juni" (2015; novel)
  • "Melipat Jarak" (2015, kumpulan puisi 1998-2015)
  • "Suti" (2015, novel)
Selain menerjemahkan beberapa karya Kahlil Gibran dan Jalaluddin Rumi ke dalam bahasa Indonesia, Sapardi juga menulis ulang beberapa teks klasik, seperti Babad Tanah Jawa dan manuskrip I La Galigo. 

Nonfiksi
  • "Sastra Lisan Indonesia" (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.
  • "Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan"
  • "Dimensi Mistik dalam Islam" (1986), terjemahan karya Annemarie Schimmel "Mystical Dimension of Islam", salah seorang penulis.
  • "Jejak Realisme dalam Sastra Indonesia" (2004), salah seorang penulis.
  • "Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas" (1978).
  • "Politik ideologi dan sastra hibrida" (1999).
  • "Pegangan Penelitian Sastra Bandingan" (2005).
  • "Babad Tanah Jawi" (2005; penyunting bersama Sonya Sondakh, terjemahan bahasa Indonesia dari versi bahasa Jawa karya Yasadipura, Balai Pustaka 1939).
  • "Bilang Begini, Maksudnya Begitu" (2014), buku apresiasi puisi.
Melalui karya-karyanya, beliau juga mendapat beberapa penghargaan, diantaranya :

·         Cultural Award dari Australia (1978)

·         Anugerah Puisi Putra dari Malaysia (1983)

·         SEA Write Award dari Thailand (1986)

·         Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia (1990)

·         Mataram Award (1985)

·         Kalyana Kretya (1996) dari Menristek RI

·         Penghargaan Achmad Bakrie (2003)

Semoga sedikit kisah tentang Sapardi Djoko Damono ini bisa menginspirasi teman-teman untuk tetap terus berkarya yes! J dan Reyn berharap karya kita semua bisa berakhir menjadi sebuah prestasi yang tak hanya sekedar menuai sensasi -_-

Salam Ceria,
~Reyn
 

Dunia Cerita Reynnara Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template