”Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”
Untuk teman-teman
para pecinta sastra, tentunya sudah tak asing lagi dengan kutipan puisi diatas
ya? Kata-katanya yang sederhana membuat puisi ini mudah untuk dipahami namun
tetap menyentuh hati dan seketika mampu masuk menelusup ke dalam nurani. Hehe.
Begitulah yang Reyn rasakan setiap membaca sajak-sajak salah satu sastrawan
terkenal negeri ini. Yaps, siapa lagi jika bukan beliau Sapardi Djoko Damono
atau yang biasa disingkat dengan SDD.
Beliau
adalah salah satu karunia Allah untuk bangsa Indonesia. Oleh karena itu
‘menurut Reyn’ adalah sebuah hal penting untuk kita (-para generasi muda bangsa-)
mengetahui siapa Bapak Hujan Bulan Juni ini. So, izinkan Reyn memperkenalkan
beberapa hal tentang beliau kepada teman-teman tersayang yah? ^^
Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, lahir di Kampung Baturono, Surakarta pada
tanggal 20 Maret 1940 (kalau kita hitung, sekarang ini usia beliau sekitar 77
tahun). Beliau merupakan anak sulung dari pasangan Sadyoko
dan Sapariah. Berdasarkan Kalender Jawa, Sapardi lahir tepat pada bulan Sapar.
Mungkin atas dasar itulah orangtuanya memberinya nama Sapardi. Ibunya juga
lahir di bulan yang sama sehingga tak heran jika ibunya kemudian bernama
Sapariah. Menurut kepercayaan orang Jawa, orang yang lahir di bulan Sapar kelak
akan menjadi sosok yang pemberani dan teguh dalam keyakinan.
Sapardi
tinggal di Ngadijayan, kampungnya Pangeran Hadiwijaya, kira-kira 500 meter dari
W.S. Rendra dan B. Sutiman yang tinggal di Kampung Patangpuluhan, dan sekitar
500 meter dari Bakdi Soemanto dan Sugiarta Sriwibawa yang tinggal di Kampung
Kratonan (ketika itu beliau sama sekali tidak mengenal “calon-calon” penyair
tersebut). Beliau bersekolah di Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar) Kraton
“Kasatriyan”, disana beliau bergaul dengan para putra pangeran. Sementara di
rumah, beliau menikmati kehidupannya sebagai anak kampung yang menghabiskan
masa kecilnya dengan bermain benthik, gobaksodor, dhelikan, jamuran, cari
belut, main jailangkung, adu jangkrik, main kelereng, main layang-layang, dan
bal-balan di gang sempit atau di Alun-alun Selatan. Berkecamuknya perang
kemerdekaan yang berlangsung sampai dengan tahun 1949, membuat Sapardi terbiasa
melihat pesawat yang menjatuhkan bom dan membakar rumah-rumah besar .
Dalam
bukunya, Sapardi mengisahkan bahwa awalnya kehidupan keluarga dari pihak ibunya
terbilang berkecukupan, namun nasib manusia memang bak roda pedati yang terus
berputar, kadang diatas kadang dibawah, demikian halnya dengan keluarga
Sapardi. Saat Sapardi kecil hadir keadaan pun berubah, mereka harus menjalani
hidup yang sulit. Masih terngiang dalam ingatan Sapardi, saking susahnya beliau
hanya makan bubur setiap pagi dan sore. Untuk menafkahi keluarganya, ibunda
Sapardi, Sapariah, berjualan buku. Sementara ayahnya, Sadyoko, memilih hidup
mengembara dari satu desa ke desa lain untuk menghindari kejaran tentara
Belanda yang kala itu kerap menangkapi kaum laki-laki. Sang ayah memang bukan
seorang pejuang, tapi tentara Belanda kala itu berpikir tentara itu kebanyakan
laki-laki.
Pak Sadyoko
pada awalnya bekerja sebagai abdi dalem di Kraton Kasunanan, mengikuti jejak
kakeknya. Setelah menikah, beliau menjadi pegawai negeri sipil di Jawatan
Pekerjaan Umum. Sementara sang kakek, selain bekerja sebagai abdi dalem
Kasunanan Raja Kasunanan Surakarta, 1893-1939 Surakarta, beliau juga punya
keahlian menatah wayang kulit. Sapardi dan adiknya, Soetipto Djoko Sasono,
mendapatkan seperangkat wayang kulit karya kakeknya sendiri. Tidaklah heran
jika Sapardi bisa sedikit-sedikit memainkan wayang. Sayangnya, akibat zaman
yang kacau, wayang itu tidak bisa terawat dengan baik.
Tahun 1943,
keluarga Sadyoko memutuskan untuk memisahkan diri dari keluarga kakeknya. Saat
itu kekuasaan atas Indonesia telah berpindah dari tangan Belanda ke Jepang.
Mereka kemudian menyewa sebuah rumah di kampung Dhawung. Ketika itu, sang ibu
hampir saja direkrut pasukan Jepang untuk menjadi prajurit. Beruntung beliau
bisa selamat dari perekrutan itu karena tengah mengandung adik Sapardi,
Soetjipto.
Setelah
Jepang menyerah pada sekutu tahun 1945, keluarga Sadyoko pindah ke Ngadijayan.
Di desa itu Sapardi dan keluarganya tinggal di rumah orangtua dari pihak ibu.
Rumah itu sangat luas. Tapi sayangnya sang kakek tak bisa menata hidup dengan
baik hingga akhirnya rumah itu digadaikan tanpa bisa ditebus hingga akhir
hayatnya. Tindakan sang kakek tidak diberitahukan kepada putra putrinya apalagi
cucu-cucunya. Setelah kakeknya meninggal, rumah itu dilelang dengan harga
rendah. Uang hasil penjualan dibagi pada tiga orang anaknya, yakni ibu Sapardi
dan dua orang pamannya.
Pada tahun
1957, sang ayah memutuskan untuk meninggalkan Ngadijayan dan pindah ke sebuah
kampung bernama Komplang. Sapardi menafsirkan, pilihan ayahnya untuk pindah itu
merupakan usaha untuk bisa mendapatkan tanah yang luas dan suasana yang lebih
tenang.
Di tempat
tinggalnya yang baru, saat itu belum ada listrik. Keadaan desa pun waktu itu
masih sangat sepi, sehingga sempat menimbulkan perasaan aneh di hati Sapardi.
Sebab, di kampung tempatnya tinggal sebelumnya, Ngadijayan, Sapardi kerap
keluyuran untuk menonton pagelaran wayang kulit. Namun lambat laun, Sapardi
mulai terbiasa dengan keadaan yang jauh berbeda itu. Meski demikian, beliau memutuskan
untuk lebih banyak tinggal di rumah. “Mungkin
karena suasana yang ‘aneh’ itu menyebabkan saya memiliki waktu luang yang
banyak dan ‘kesendirian’ yang tidak bisa saya dapatkan di tengah kota,”
kata Sapardi.
Walaupun
memutuskan untuk lebih banyak tinggal di rumah dan menikmati ‘kesendirian’,
hobi keluyurannya tak lantas berhenti begitu saja. Namun, ‘keluyuran’-nya kali
ini bukan dalam arti fisik di dunia nyata melainkan dalam dunia batinnya
sendiri.
Sambil
menikmati masa ‘kesendirian’-nya itu, Sapardi mulai menulis puisi. “Saya belajar menulis pada bulan November
1957,” ucapnya. Sebulan setelah belajar menulis, karyanya berupa sajak
dimuat di majalah kebudayaan yang terbit di Semarang. Tahun berikutnya,
sajak-sajaknya mulai bermunculan di berbagai halaman penerbitan yang antara
lain diasuh oleh HB. Jassin.
Kegairahan
menulis didapat Sapardi dari hobinya membaca. Sejak kecil Sapardi memang sangat
menyukai buku-buku petualangan. Ia pun sangat menyukai karangan Karl May,
William Saroyan, dan TS Eliot. Menurut Sapardi yang kala itu duduk di kelas 2
SMA, buku-buku mereka sangat populer di kalangan remaja yang suka membaca.
Untuk ukuran
seorang pelajar SMA, buku drama puisi karya Eliot sebenarnya tidak terlalu
gampang dicerna. Oleh karena itu Sapardi mengakui bahwa beliau hanya bisa
memahami sekitar 25% saja, atau mungkin kurang dari itu. Sapardi memang orang
yang memiliki rasa ingin tahu cukup besar. Untuk memuaskan rasa ingin tahunya,
beliau tak hanya membaca buku tapi juga membaca gejala-gejala alam.
Salah satu
karya terjemahan Sapardi, Murder in Cathedral karangan TS Eliot yang bernuansa
“Kristiani” sempat memunculkan dugaan bahwa Sapardi yang muslim menempuh
pendidikan di Sekolah Dasar Katolik. Tapi dugaan itu ternyata tidak benar,
Sapardi tidak pernah masuk sekolah Katolik. Beliau mengaku waktu kecil memang sering
ikut Sekolah Minggu, akan tetapi beliau hanya main-main saja karena beliau memang
suka keluyuran.
Di samping
itu, menurut pengakuan seorang guru besar Universitas Atmajaya, ketika menjadi
mahasiswa, Sapardi memiliki hubungan dekat dengan Pater Theodorus Geldorp SJ
atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pater Dick Hartoko. Kedekatan hubungan
mereka terjadi pada saat Pater Dick menjabat sebagai pemimpin redaksi dimajalah
kebudayaan Basis dan Sapardi mengasuh rubrik puisi dimajalah tersebut. Pada
peringatan satu tahun wafatnya Pater Dick, Sapardi memberikan uraian
kenangannya yang berkaitan dengan kedekatan hubungan itu. Bahkan dalam
menyelesaikan skripsinya tentang Murder in the Cathedral, beliau mendapatkan
pinjaman mesin tik dari Pater Dick.
Dugaan yang
mengatakan bahwa Sapardi pernah bersekolah di sekolah Katolik menurut Sapardi
mungkin didasari kumpulan puisi dalam buku “Duka-Mu Abadi” yang terbit di tahun
1969. Karena puisi-puisi dalam buku itu banyak menyajikan imaji-imaji yang
menimbulkan asosiasi kekristenan.
Namun pada
kenyataannya, Sapardi masuk Sekolah Dasar Kasatrian, yakni sekolah dasar yang
khusus diperuntukan bagi kaum laki-laki para kerabat Kraton. Meski berdarah
ningrat, jejak-jejak keningratan tidak tampak pada perilaku dan karya-karyanya.
Ini menunjukkan sekolah itu hanya memberikan pendidikan formal saja. Bedanya,
di sekolah itu Sapardi mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan menabuh
gamelan dan menari tari Jawa. Meski demikian, yang tampak sejak SMA, Sapardi
lebih suka main gitar daripada alat musik tradisional Jawa.
Setamat SD,
beliau melanjutkan pendidikannya ke SMP II di wilayah Mangkunagaran. Kemudian
melanjutkan SMA II di Margoyudan. Ketika SMA, Sapardi menjalin pertemanan
dengan Jeihan Sukmantoro yang kini dikenal sebagai pelukis ekspresionistik
Indonesia terkemuka. Jeihan adalah salah seorang pengelola majalah dinding
dimana Sapardi sering mengisi majalah dinding itu. Persahabatan itu masih
terjalin hingga kini. Bahkan beberapa kegiatan puisinya didanai oleh Jeihan.
Pada pameran lukisan Jeihan di Jakarta, 29 Juli 2005 , Jeihan mempersembahkan
sebuah patung Sapardi telanjang yang khusus diciptakannya.
Tak hanya
bersahabat dengan sang pelukis, Sapardi juga memiliki bakat melukis. Lukisannya
bahkan pernah dilelang untuk amal bersama dengan beberapa pelukis lain, di
antaranya Danarto. Selain bakat melukis, beliau juga berbakat menjadi seorang
sutradara. Pentas drama yang pernah ditanganinya antara lain “Petang di Taman”
karya Iwan Simatupang. Di samping menjadi tokoh di balik layar, beliau juga
pernah beberapa kali tampil sebagai pemain saat tergabung dalam ”Teater Rendra”
pimpinan WS Rendra.
Setamat SMA
beliau melanjutkan studinya di Jurusan Sastra Barat Fakultas Sastra dan
Kebudayaan Universitas Gajah Mada (UGM). Catatan tersebut menunjukan Sapardi
tidak pernah sama sekali masuk sekolah Katolik. Istilah-istilah yang lekat
dengan umat Nasrani seperti Yesus, Golgota, Qain, dan Abil dalam karyanya
diduga hanya didapatnya dari buku-buku bacaan.
Sapardi
menyelesaikan studi di Jurusan Sastra Barat (-sekarang Jurusan Sastra Inggris)
pada tahun 1964. Sementara bukunya “Duka-Mu Abadi” ditulis pada 1967 dan 1968.
Ini artinya, Sapardi sudah melewati pergulatan lebih intens dengan ”Murder in
the Cathedral” yang menjadi objek materi skripsinya. Seperti judulnya, lakon
itu mengisahkan pembunuhan seorang uskup yang bernama Becket. Dari hal itu bisa
dibayangkan bahwa cerita tersebut sarat dengan nuansa Kristiani. Untuk kepentingan
penulisan sikripsinya itu, sudah pasti dibutuhkan pengetahuan yang cukup. Itu
sebabnya Sapardi dipaksa tidak hanya membaca tapi mempelajari kitab suci, yang
mungkin tidak hanya Injil tapi juga kitab-kitab dari agama lain.
Sebagai
mahasiswa yang gemar berkesenian, Sapardi sering pula mengisi acara semacam
puisi. Beliau sering ditemani sahabat-sahabatnya yang memiliki kecintaan seni
yang sama di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM. Mereka antara lain Ramli Leman
Soemowidagdo, Rachmat Djoko Pradopo, Niniek Koesoemowardhani, Widiati Saebani,
Lastri Fardani, dan Ninies C.M Tri Sudarsi Widagdo.
Sapardi bisa
dibilang sebagai seorang gitaris yang handal juga. Beliau bermain band tatkala
di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM. Budayawan, Novelis, Cerpenis, Dosen Umar
Kayam pernah bercerita bahwa saat masih menjadi Dekan di Fakultas Sastra UI,
Sapardi selalu membawa gitar ke kantornya.
Dari
berbagai kemampuannya di bidang seni, mulai dari menari, bermain gitar, bermain
drama, dan sastrawan, tampaknya bidang sastralah yang paling menonjol
dimilikinya. Beliau dikenal sebagai Penyair Legendaris Indonesia dan penyair
papan atas, tak hanya di dalam negeri tetapi juga di dunia internasional.
Sajak-sajaknya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia, termasuk bahasa
Jawa.
Beberapa di
antaranya menjadi lirik lagu-lagu cinta yang sering dinyanyikan paduan suara
kelompok terkemuka pada pesta penikahan, bahkan hingga ke Amerika. Salah satu
sajaknya yang berjudul “Pilgrimage” (Suddenly the Night, 1988: 13) yang
merupakan terjemahan dari “Ziarah” (duka-Mu abadi, 1975:30-31) pernah dikutip
dalam suatu konferensi internasional oleh Narasima Rao, yang merupakan Perdana
Menteri India. Beberapa sajaknya yang lain sudah diterjemahkan ke dalam bahasa
Inggris dan dimasukkan ke dalam antologi puisi dunia.
Di dunia
akademisi, pria berkacamata ini adalah seorang guru besar ilmu sastra yang
beberapa periode menjabat sebagai Pembantu Dekan I, Dekan, serta Ketua Program
Pascasarjana yang semuanya dalam lingkup Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya,
Universitas Indonesia. Sapardi sering memberikan pengarahan kepada mahasiswanya
bagaimana cara membacakan puisi yang baik.
Dalam
kegiatannya sebagai akademisi, Sapardi juga merupakan seorang penjelajah.
Setelah awalnya beliau mengambil kuliah di Jurusan Sastra Barat, Fakultas
Sastra dan Kebudayaan UGM, tapi perhatiannya pada Sastrawan, Pendiri PDS H.B.
Jassin sastra Indonesia juga sangat besar. Kepada dunia sastra akademik,
Sapardi memang menunjukkan minat yang tinggi. Minat itu semakin tampak dengan
didirikannya sebuah organisasi para sarjana sastra yang diberi nama Himpunan
Sarjana Kesusastraan Indonesia (Hiski) yang kegiatannya antara lain
menyelenggarakan seminar di berbagai kota di seluruh Indonesia. Dalam
perjalanannya, Hiski ini telah berhasil memberdayakan para sarjana kesusastraan
Indonesia.
Dalam proses
menulis, Sapardi termasuk pengarang yang memulai tulisannya tanpa diawali ide
atau dorongan hati, tapi karena begitu saja. Biasanya, entah bagaimana beliau
tiba-tiba menggoreskan penanya atau mengetik beberapa kata pada kertas atau
pada layar monitor, baru kemudian ia mengembangkannya. Tetapi yang jelas, dari
mana pun dan bagaimanapun beliau memulai tulisannya, daya cipta Sapardi akan
muncul apabila beliau berada dalam suatu suasana tertentu.
Dalam
tulisan ‘Permainan Makna’ (Sihir Rendra, 1999:255-273) dikatakan oleh Sapardi, “Ternyata, kemudian, masa kecil yang sama
sekali tidak istimewa itu menjadi sumber bagi sebagian puisi saya, setidaknya
bisa dikatakan bahwa beberapa sajak yang saya sukai mengingatkan saya pada masa
kecil tersebut”. Dari kalimat yang diucapkannya itu terlihat bahwa Sapardi
ternyata sangat tertarik dengan kehidupan batinnya sendiri. Masa kecil rupanya
menjadi sumber kreativitasnya.
Seperti saat pertama kali beliau mengirimkan
sebuah karangan berupa cerita ke sebuah majalah anak-anak berbahasa Jawa
bernama ‘Taman Putra’ yang merupakan suplemen untuk majalah berbahasa Jawa
terkenal bernama ‘Penyebar Semangat’ yang redaksinya adalah seorang tokoh
jurnalistik terkenal bernama Subagio Imam Notodidjojo (Pak SIN).
Dalam cerita yang dikirimkannya, Sapardi
mengisahkan salah satu peristiwa masa kecilnya, namun sayang karangan itu
ditolak. Menurut Pak SIN, cerita itu tidak masuk akal. Tentu saja penolakan itu
membuat Sapardi kecewa. Tapi yang lebih penting menurutnya adalah secara tidak
langsung untuk pertama kalinya ia ‘diberi tahu’ dan selanjutnya menyadari bahwa
ada peristiwa dalam hidupnya yang tak masuk akal.
Cerita yang ditulis Sapardi itu mengisahkan
ketika beliau dan adiknya dilepas ibunya untuk pergi menginap bersama sang ayah
di rumah ibu tirinya. Semua berjalan biasa saja, tapi ternyata cerita itu
dikatakan tidak masuk akal. Padahal Sapardi menegaskan tulisan itu dibuat apa
adanya tanpa dilebih-lebihkan.
Pak SIN ternyata lebih percaya bahwa cerita
anak-anak yang baik adalah yang masuk akal. Padahal menurut Sapardi, bukan
hanya cerita, melainkan hidup dan peristiwa dalam kehidupan yang fantastis yang
justru sangat menarik, indah, dan sangat bagus luar biasa. Lebih penting lagi,
kisah-kisah fantastis itulah yang bisa merangsang daya imajinasi anak-anak
untuk lebih gemar membaca, belajar dan melakukan penjelajahan untuk memperkaya
pengetahuan dan memperluas wawasannya, serta mendewasakan hidup batinnya.
Seperti kisah para penemu, ide-ide mereka pada awalnya dianggap tidak masuk
akal namun dikemudian hari ini ide mereka dapat berguna bagi kehidupan banyak
orang di seluruh dunia.
Mungkin sebagian orang menduga, sangat sulit
diterima akal sehat jika ada seorang ibu yang melepaskan anak-anaknya untuk
menginap di rumah ibu tiri. Karena pada umumnya istri pertama sangat benci pada
istri kedua, demikian juga sebaliknya. Suami mereka jadi rebutan. Akan tetapi
tidak demikian dengan ibu Sapardi, Sapariah. Sang bundanya itu bahkan berkata
pada Sapardi yang merupakan anak sulung, “Biarkan
saja ayahmu. Nanti kalau sudah ‘waras’ akan kembali pulang.” Di sini letak
kesabaran dan keagungan ibu Sapariah.
Bagi perempuan masa kini, apalagi mereka yang
disebut Dosen studi feminisme dan filsafat kontemporer di Universitas Indonesia
feminisme, sikap ibu Sapariah itu akan sangat disayangkan oleh sesama kaumnya.
Akan tetapi segi positifnya, Ibu Sapariah telah mendidik Sapardi untuk memahami
makna kesabaran dan makna menahan diri. Kesabaran untuk selalu menahan diri
itulah yang akhirnya menjadi kekuatan luar biasa yang mengantarkan Sapardi
menjadi salah seorang Penyair Legendaris Indonesia.
Menanggapi penolakan itu, beliau hanya
menulis “Bagi saya, cerita tersebut
pernah benar-benar terjadi, tidak peduli apakah cerita itu masuk akal atau
tidak.” Tampaknya, penolakan cerita karyanya tidak membuat Sapardi
bergeming. Tapi, itu menumbuhkan suatu sikap baginya yang kemudian tampaknya
menjadi semacam pandangan dunianya. Ini yang kemudian menjadi salah satu motor
penggerak penulisan karyanya, terutama puisi.
Tanpa disadari, Pak SIN telah ikut
menggembleng Sapardi. Mungkin Pak SIN dengan pandangannya yang demikian tidak
sendirian, beliau hanya mewakili tokoh jurnalistik dizamannya. Pak SIN telah menempatkan diri
sebagai seorang pendidik yang menerapkan cara berpikir sebagaimana guru-guru
sekolah dasar dan SMP yang harus mendidik murid-muridnya berpikir logis. Itu
pula yang kemudian mengajarkan kepada Sapardi bahwa kenyataan dalam hidup
tidaklah nalar, tidak masuk akal, dan tidak logis. Hal-hal yang dipandang logis
adalah yang muncul dari rumusan logika yang rasional.
“Kemudian
saya berpikir, barangkali dunia nyata boleh tidak masuk akal, tetapi dunia
rekaan harus masuk akal. Dunia nyata lebih tidak masuk akal dibandingkan dunia
rekaan. Segala peristiwa dalam dunia nyata terjadi begitu saja tanpa rancangan
pasti sebelumnya, tetapi rangkaian peristiwa dalam dunia rekaan harus diatur
sedemikian rupa agar jelas. Sebab, akibatnya agar masuk akal. Dengan demikian, dunia
nyata harus diedit agar menjadi dunia rekaan. Hidup ini harus melalui proses
pengguntingan, pemolesan, penghapusan, pemilihan dan penyusunan kembali agar
bisa diterima sebagai cerita. Meskipun saya belum berpikir sejauh itu, sudah
sepantasnya kalau waktu itu saya sama sekali tidak berusaha lagi menulis
cerita. Saya merasa lebih tenteram menjalani yang tak masuk akal, setiap hari
bermain-main dengan teman sebaya…” (Sihir
Rendra, 1999:258)
Dengan mempersoalkan yang masuk akal dan yang
tak masuk akal, Sapardi memisahkan antara puisi dan cerita. Jika orang menulis
narasi yang tak masuk akal, segera muncul kritik, tetapi dalam puisi, hal-hal
yang tidak masuk akal tidaklah mendapat gubrisan. Demikian kesan Sapardi
terhadap kritik sastra kita selama ini. Itulah sebabnya, pada awal kariernya,
sejak kasus Taman Putra, Sapardi tidak menulis cerita.
Karena ingin tentram di dunianya yang tak
masuk akal, maka beliau memilih puisi. Dunia dan suasana masa kecilnya menjadi
bagian penting dalam sajak-sajak yang disukainya. Di sana, dalam dunia dan
suasana anak-anak itu, bermunculanlah peristiwa-peristiwa murni yang kebanyakan
tidak masuk akal seperti yang pernah beliau tulis sewaktu kecil.
Pada tahun 2001, melalui sebuah surat Sapardi
mengatakan kepada salah satu penyair perempuan Indonesia, Dorothea Rosa
Herliany, “Bagi saya, garis pemisah
antara ketiga jenis karangan ini (yang dimaksudkannya adalah puisi, cerita dan
esai) tidak pernah pasti. Selalu bergeser ke sana-sini, itulah hakikat
kebebasan kreativitas yang saya kira…” (“Semacam Pengantar” dalam Sapardi
Djoko Darmono, Pengarang Telah Mati, 2001:ix).
Ini menunjukkan bahwa kemerdekaan dan
kebebasan kreativitas sangat penting bagi Sapardi. Walaupun beliau berkali-kali
menegaskan bahwa dalam penulisan puisi, cerita maupun yang lain senantiasa
dibacanya kembali berulang-ulang sebelum dinyatakan “jadi”, beliau juga
mengakui bahwa dalam proses penciptaan ada sesuatu yang tak sepenuhnya bisa
dikendalikannya sendiri.
Dalam perjalanan hidup dan karier Sapardi,
beliau menikah dengan seorang perempuan dari Salatiga setelah tamat dari
Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM. Istrinya adalah teman satu jurusannya di
UGM. Selanjutnya, beliau pun menjadi dosen di Madiun, Solo dan Semarang. Di
sela-sela kesibukannya itu, beliau juga sempat belajar di Amerika Serikat.
Setelah itu, pada tahun 1973, beliau menetap di Jakarta yang pada tahun itu
juga, beliau diminta Australian Film untuk membantu membuat film semi
dokumenter mengenai dampak modernisasi bagi kehidupan keluarga di Bali dan Solo,
masing-masing selama dua bulan.
Beliau
pernah mondar-mandir Jakarta-Semarang selama hampir dua tahun karena
mengajar di Universitas Diponegoro dan menjadi Direktur Pelaksana Yayasan
Indonesia. Sembari bekerja di majalah Horison, beliau kemudian menjadi pengajar
tetap di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya)
Universitas Indonesia.
Sapardi juga pernah tercatat sebagai anggota
Dewan Kesenian Jakarta dan pelaksana harian Pusat Dokumentasi Sastrawan HB
Jassin. Pria yang rajin melakukan medical check-up ini bahkan pernah menjadi
pengurus RT. Di samping pernah menjadi anggota redaksi majalah kebudayaan Basis
yang terbit di Jogja, beliau pernah pula menjadi country editor untuk majalah
Tenggara, yakni sebuah jurnal sastra Asia Tenggara yang terbit di Kuala Lumpur.
Tugas lain yang pernah diembannya adalah
menjadi koresponden untuk Indonesian Circle, sebuah jurnal ilmiah yang
diterbitkan oleh School of Oriental and African Studies (SOAS), University of
London. Lepas dari Horison, beliau membantu Kalam yang merupakan sebuah jurnal
kebudayaan. Bersama Budayawan, Novelis, Cerpenis, Dosen Umar Kayam, Subagio
Sastrowardoyo, Goenawan Mohamad, dan John McGlynn, Sapardi mendirikan Yayasan
Lontar yang lebih banyak menerbitkan karya Sastrawan, Pendiri PDS H.B. Jassin
sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Beliau pun memprakarsai berdirinya
Yayasan Puisi dan menerbitkan Jurnal Puisi.
Sapardi menyadari bahwa sajak dan ceritanya
tidak bisa menopang hidupnya secara ekonomi. Namun, dengan karya kreatifnya, Sapardi
bisa melanglang buana. Di samping itu, beberapa puisinya yang sering
dinyanyikan pada pesta pernikahan, muncul di kartupos, kalender, poster,
T-shirt, bloknot, topi pet dan kue. Ini membuatnya bahagia. Karya-karyanya
dikenal tidak hanya di dalam negeri, tapi sudah mendunia. Salah satu buktinya
adalah Perdana Menteri India, Narashima Rao pernah mengutip sajaknya yang
berjudul “Pilgrimage” (terjemahan puisi “Ziarah”) dalam suatu pidato pada KTT
Non-Blok. Hal itu jelas menjadi hal yang membahagiakan bagi Sapardi.
Sapardi tak hanya sastrawan, beliau juga
seorang pemikir dan kritikus sastra. Sapardi juga dikenal luas sebagai seorang
penerjemah sastra yang piawai. Walaupun mungkin pada mulanya itu sekadar
kegemaran, kemudian berkembang menjadi semacam profesi. Tapi mengenai hal yang
satu ini, beliau mengatakan imbalan penerjemahan di Indonesia terlalu kecil.
Hasil terjemahannya antara lain adalah: Puisi Klasik Cina, Puisi Parsi Klasik,
Puisi Brazilia Modern, Serpihan Sajak George Seferis, Mendorong Jack
Kunti-kunti, Sepilihan Sajak Australia, Afrika yang Resah, Lelaki tua dan Laut
(karya Hemingway), Daisy Manis (karya Henry James), kumpulan cerita pendek
karya Albert Wendt dari Samoa, Tiga Sandiwara Ibsen, Duka Cita bagi Electra
(lakon karya Eugene O’Neill), Shakuntala, dan Amarah (The Grapes of Wrath karya
John Steinbeck).
Beberapa karya terjemahannya ada yang belum
sempat dibukukan. Tetapi sudah diterbitkan di majalah atau sudah dimainkan di
beberapa tempat, antara lain: Pembunuhan di Katedral (karya T.S Eliot); Singa
dan Permata (karya Wole Soyinka); Brown sang Dewa Agung (sebuah lakon karya
O’Neil); Asap Musim Panas (karya Tenesee Williams); dan Di Bawah Langit Afrika
(kumpulan cerpen).
Para pengamat menilai sajak-sajak Sapardi
dekat dengan Tuhan dan kematian. “Pada
Sapardi, maut atau kematian dipandang sebagai bagian dari kehidupan, bersama
kehidupan itu pulalah maut tumbuh,” tulis Jakob Sumardjo dalam harian
Pikiran Rakyat, 19 Juli 1984. Sebuah karya besar yang pernah beliau buat adalah
kumpulan sajak yang berjudul Perahu Kertas yang memperoleh penghargaan dari
Dewan Kesenian Jakarta. Lalu kumpulan
sajak Sihir Hujan yang ditulisnya ketika ia sedang sakit juga berhasil memperoleh Anugerah Puisi
Poetra Malaysia. Kabarnya, hadiah sastra berupa uang sejumlah Rp 6,3 juta saat
memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia langsung dibelanjakannya untuk
memborong buku. Selain itu beliau juga pernah memperoleh penghargaan SEA Write
pada 1986 di Bangkok, Thailand.
Bekas anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)
ini juga menulis esai dan kritik sastra. Beliau berpendapat, di dalam karya
sastra ada dua segi, yakni tematik dan stilistik (gaya penulisan). “Secara gaya, sudah ada pembaruan di
Indonesia. Tetapi di dalam tema, belum banyak yang berubah di Indonesia.” Beliau
patut dihargai sebagai orang yang melahirkan bentuk sastra baru. Sumbangsih
Sapardi cukup besar kepada budaya dan sastra, dengan melakukan penelitian,
menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan aktif sebagai administrator dan
pengajar, serta menjadi dekan Fakultas Sastra UI periode 1995-1999. Beliau juga
menjadi penggagas pengajaran mata kuliah Ilmu Budaya Dasar di fakultas sastra.
Berikut adalah karya-karya SDD (berupa kumpulan
puisi), serta beberapa esai.
Fiksi (Puisi dan Prosa)
- "Duka-Mu Abadi", Bandung (1969)
- "Lelaki Tua dan Laut" (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
- "Mata Pisau" (1974)
- "Sepilihan Sajak George Seferis" (1975; terjemahan karya George Seferis)
- "Puisi Klasik Cina" (1976; terjemahan)
- "Lirik Klasik Parsi" (1977; terjemahan)
- "Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak" (1982, Pustaka Jaya)
- "Perahu Kertas" (1983)
- "Sihir Hujan" (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
- "Water Color Poems" (1986; translated by J.H. McGlynn)
- "Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (1988; translated by J.H. McGlynn)
- "Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
- "Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia" (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
- "Hujan Bulan Juni" (1994)
- "Black Magic Rain" (translated by Harry G Aveling)
- "Arloji" (1998)
- "Ayat-ayat Api" (2000)
- "Pengarang Telah Mati" (2001; kumpulan cerpen)
- "Mata Jendela" (2002)
- "Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?" (2002)
- "Membunuh Orang Gila" (2003; kumpulan cerpen)
- "Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an)" (2005; salah seorang penyusun)
- "Mantra Orang Jawa" (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)
- "Before Dawn: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (2005; translated by J.H. McGlynn)
- "Kolam" (2009; kumpulan puisi)
- "Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita" (2012)
- "Namaku Sita" (2012; kumpulan puisi)
- "The Birth of I Lagaligo" (2013; puitisasi epos "I La Galigo" terjemahan Muhammad Salim, kumpulan puisi dwibahasa bersama John McGlynn)
- "Hujan Bulan Juni: Sepilihan Sajak" (edisi 1994 yang diperkaya dengan sajak-sajak sejak 1959, 2013; kumpulan puisi)
- "Trilogi Soekram" (2015; novel)
- "Hujan Bulan Juni" (2015; novel)
- "Melipat Jarak" (2015, kumpulan puisi 1998-2015)
- "Suti" (2015, novel)
Selain menerjemahkan beberapa karya Kahlil
Gibran dan Jalaluddin
Rumi ke dalam bahasa Indonesia, Sapardi juga
menulis ulang beberapa teks klasik, seperti Babad Tanah Jawa dan manuskrip I La
Galigo.
Nonfiksi
- "Sastra Lisan Indonesia" (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.
- "Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan"
- "Dimensi Mistik dalam Islam" (1986), terjemahan karya Annemarie Schimmel "Mystical Dimension of Islam", salah seorang penulis.
- "Jejak Realisme dalam Sastra Indonesia" (2004), salah seorang penulis.
- "Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas" (1978).
- "Politik ideologi dan sastra hibrida" (1999).
- "Pegangan Penelitian Sastra Bandingan" (2005).
- "Babad Tanah Jawi" (2005; penyunting bersama Sonya Sondakh, terjemahan bahasa Indonesia dari versi bahasa Jawa karya Yasadipura, Balai Pustaka 1939).
- "Bilang Begini, Maksudnya Begitu" (2014), buku apresiasi puisi.
Melalui karya-karyanya, beliau juga mendapat beberapa penghargaan,
diantaranya :
· Cultural Award dari Australia (1978)
· Anugerah Puisi Putra dari Malaysia (1983)
· SEA Write Award dari Thailand (1986)
· Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia (1990)
· Mataram Award (1985)
· Kalyana Kretya (1996) dari Menristek RI
· Penghargaan Achmad Bakrie (2003)
Semoga sedikit kisah tentang Sapardi Djoko Damono ini bisa menginspirasi
teman-teman untuk tetap terus berkarya yes! J dan Reyn berharap karya kita semua bisa
berakhir menjadi sebuah prestasi yang tak hanya sekedar menuai sensasi -_-
Salam Ceria,
~Reyn

