Welcome to my blog, readers
Judul : Origin
Penulis :
Dan Brown
Penerjemah :
Ingrid Dwijani Nimpoeno, Reinitha Amalia Lasmana dan Dyah Aagustine
Jumlah Halaman : 516
Penerbit : Bentang Pustaka
Pendistribusi : Mizan Media Utama
“yah, sains dan agama tidak saling bersaing. Mereka
adalah dua Bahasa berbeda yang berupaya menceritakan kisah yang sama. Ada ruang
di dunia ini bagi keduanya.”
-Robert Langdon, Origin-
Novel yang menceritakan tentang perlukah manusia
mempercayai suatu agama sedangkan kemajuan teknologi dibidang sains sudah bisa
menjawab pertanyaan fundamental setiap orang, darimana asal kita? Dan kemana
kita akan pergi?
Bahasan yang sangat berani mengangkat tema perbedaan
pandangan kaum agnostic dengan kaum spiritual. Bagi kita orang Indonesia yang
pada dasarnya mempercayai suatu agama, tentu ini merupakan pembahasan yang
tidak umum.
Tapi itu menunjukkan bahwa di dunia ini ada banyak sekali
sudut pandang. Bahwa diluar sana ada banyak kaum yang secara terang-terangan
menentang adanya keberadaan Tuhan. Sedangkan untuk umat beragama kita selalu
percaya bahwa dalam setiap perbuatan kita ada campur tangan dari Tuhan.
Inilah bentuk kekayaan literasi dunia. Kita tidak mungkin
memungkiri bahwa kedepannya akan muncul lebih banyak lagi buku-buku seperti
ini. Buku ini cocok untuk mereka yang mempunyai pandangan yang terbuka. Tidak
disarankan bagi mereka yang fanatic terhadap agama tertentu karena isinya
mengandung banyak pertentangan terhadap Tuhan.
Kemajuan teknologi juga menjadi salah satu bahasan dalam
novel ini. Bagaimana teknologi sebenarnya bisa mengancam manusia bertindak, dan
membuat keputusan sendiri tanpa perlu merasa bersalah, menjadi ancaman juga
bagi manusia dimasa depan. Apakah masih perlu agama dimasa depan ataukah abad
agama hamper berakhir? Buku ini akan membahasnya dan konklusinya tergantung
pada diri anda.
Berikut ini beberapa hal terkait novel Origin akan saya
bagikan kepada pembaca dengan harapan dapat menciptakan terjadinya diskusi
lebih lanjut;
1.
Sudut pandang orang ketiga
Ini bisa dilihat dari berganti-gantinya sudut pandang
yang diperlihatkan oleh penulis. Diantaranya adalah sudut pandang Edmond Kirsch
(sang futuristk), Robert Langdon (Profesor Universitas Havard), Luis Avila
(laksamana angkatan laut Spanyol), Rabi Koves (filosof Yunani), Syed Al-Fadl
(cendekiawan Islam), Misdinar (asisten misa kerajaan Spanyol), Ambra Vidal
(calon ratu Spanyol dan direktur museum Guggenheim), Rafa Diaz (agen Guardia
Real), Josh Siegel (pilot jet pribada Edmond), Monica Martin (coordinator humas
kerajaan Spanyol), Hector Marcano (blogger), dan Dr. Mateo Valero (pengawas
E-wave sekaligus penanggung jawab lab supercomputer Barcelona).
Dari beragamnya sudut pandang yang ditampilkan membuat
novel ini menjadi lebih hidup dengan berbagai sudut pandang dari tokoh-tokoh yang
berbeda dalam melihat suatu kejadian/konflik dalam cerita.
Jadi sebuah poin plus juga bagi novel yang memiliki
konsep seperti ini agar pembaca tidak langsung mudah menebak ending/ kelanjutan
ceritanya yang pada akhirnya membuat pembaca akan terus membaca untuk
mengetahui kelanjutannya.
2.
Jumlah bab yang banyak
Nampaknya ini menjadi sebuah strategi baru bagi
penulis novel untuk membuat pembacanya tidak cepat bosan dengan jalan
ceritanya, yaitu dengan membuat banyak bab agar halaman dari satu bab ke bab
yang selanjutnya tidak terlalu Panjang.
Strategi ini cukup berhasil bagi saya karena ditiap
babnya akan lebih padat pembahasannya. Jika menggunakan strategi seperti novel
lainnya dimana hanya ada sedikit bab novel Origin ini mungkin bisa mencapai
600-700 halaman melihat dari pembahasan tiap babnya yang padat perlu diuraikan
lagi jika hanya sedikit bab didalamnya.
Novel Sirkus Pohon karya Andrea Hirata juga menerapkan
hal ini dan bagi saya ini yang membuatnya lebih bagus dalam perkembangan
kepenulisan novel.
“Terkadang, yang perlu kau
lakukan adalah memutar balik sudut pandangmu untuk dapat melihat kebenaran
orang lain”
-Robert Langdon-
-Robert Langdon-
3.
Penyajian fakta yang
berlimpah dalam sebuah fiksi
Butuh 5 tahun untuk melakukan riset yang diperlukan
dalam penulisan buku ini. Hal ini menunjukkan bahwa sang penulis bukan hanya
ingin membuat novel yang bagus, melainkan juga penuh dengan fakta yang
menjadikan novel ini begitu informatif.
Benar-benar menunjukkan Spanyol kepada dunia baik dari
segi arsitekturnya, karya seninya, dan sejarahnya. Pembaca akan benar-benar
disuguhkan buku yang penuh pengetahuan akan seni sains, teknologi, hingga
sejarah.
Tentu jika menginginkan imajinasi yang lebih nyata
ketika membaca novel ini, para pembaca harus sesekali membuka google untuk
mencari info lokasi, seni, arsitektur, tokoh dunia, dan sejarah yang disajikan
dalam novel ini.
Dilembar awal buku ini sang penulis Dan Brown sudah
mencantumkan catatan yang berisi: FAKTA,
semua karya seni, arsitektur, lokasi, sains, dan organisasi keagamaan dalam
novel ini nyata.
Sebuah jaminan yang sangat berani dari penulis
berdasarkan penelitiannya yang dikabarkan memakan waktu hingga 5 tahun.
4.
Konflik yang mengangkat
tentang keresahan pemeluk agama
Dalam ceritanya, sang futuris Edmond Kirsch membuat sebuah penemuan yang
akan mengguncang keyakinan para pemeluk agama bahkan diklaimnya bisa
menghancurkan keyakinan itu.
Sebuah penemuan akan jawaban fundamental manusia, darimana asal kita dan
kemana kita akan pergi. Disebutkan dalam presentasi penemuannya bahwa ilmu
sains telah menunjukkan tanda-tanda timbulkan kehidupan dari penggabungan
beberapa unsur kimia dalam beberapa ribu tahun kedepan. Yang ditunjukkan
menggunakan proyeksi dari supercomputer yang dinamakan E-wave oleh Edmond.
Tapi sejujurnya dari yang saya perhatikan justru hal ini membuat
agama-agama yang ada untuk berusaha bersatu melawan penemuan ini demi
terjaganya keyakinan para pemeluk agama. Hal ini dianggap mengancam para
pemeluk agama karena dengan terbuktinya bisa menciptakan kehidupan hanya dengan
gabungan beberapa unsur kimia dan tanpa bantuan Tuhan.
Berikut ini beberapa kekurangan yang saya rasakan ketika
membaca novel Origin
1.
Struktur penulisan kurang
terasa novel
Jika pada novel kebanyakan ketika dialog tokoh sedang
berlangsung, kalimatnya pasti dipisah dari penjelasan situasinya. Biasanya
dienter sekali atau duakali untuk menunjukkan bagian dialog antar tokohnya.
Namun dalam novel Origin ini semuanya tertulis didalam
satu paragraph dengan penjelasan situanya. Bagi saya ini membuatnya menjadi
terasa seperti buku non fiksi atau buku teori. Hal ini juga lah yang membuat
saya merasa feel novelnya hilang.
2.
Kesalahan pengetikan
Dibeberapa halaman saya masih menemukan kesalahan
ketik atau pengetikan yang berulang. Tapi jumlahnya sangat sedikit sekali. Para
pembaca tidak akan merasa terganggu dengan adanya kesalahan ketik penulisan
tersebut.
Dari penjelasan saya tentu novel ini layak untuk dibaca
terutama bagi kalian yang menyukai novel science fiction. Saya rekomendasikan
juga novel ini bagi kalian yang memiliki keterbukaan dalam cara berpikir. Jika
kalian orang yang terlalu fanatic, tentu ini bukan bacaan yang sesuai dengan
kalian.
Jangan sampai kekayaan literasi seperti ini dilihat
sebagai bentuk pembunuhan terhadap agama. Agama akan mati jika si pemeluknya
tidak memiliki iman yang teguh. Tetap berpikir rasional dalam mempelajari
sesuatu. Lihat apa yang disampaikan kemudian bandingkan dengan kehidupan nyata
saat ini. Ambil yang baiknya dan tinggalkan yang buruknya.
“Anda punya musuh? Bagus. Itu berarti anda sudah
berjuang untuk sesuatu”
-Winston Churchill-
-Winston Churchill-
Kekurangan ada pada diri
saya, kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
Terima Kasih.

