Sebagai
anak gandrung filsafat diakhir abad 20 dan abad awal 21, postmodernisme dan
poststrukturalisme menjadi fashion trendy selayak celana cutbray ditahun 70an. Tak
tergolong trendy bagi orang yang tidak menyandangnya.
Dekontruksi,
independensi teks, nihilism, dan semacamnya adalah kerlap kerlip ornamen yang
berfungsi sebagai hiasan pembangun ketrendian ketimbang pemecah persoalan.
Teori
arkeologi pengetahuan – Genealogi kekuasaan memang membantu kita membuka mata
tentang ketidaknetralan ilmu, tetapi Cuma nanggung mentok disitu, tak mampu
jadi sengaja pamungkas atas kemelut realitas dunia.
Teori
agen dan arena memang membantu kita memetakan kekuatan pihak-pihak terkait,
tettapi mandeg sebatas artikel jurnal dan seminar. Sepulang seminar, mampir
kembali ke pub dan karaoke, asik dalam jerat kapitalisme.
Apalagi
teori Geometri music, Metafisika bunyi, Post Avant Gardisme, dan sekeranjang
lainnya, cukup manis sebagai hiasan rak buku maupun rak pikiran. Hanya itu.
Sebagian
pemikiran mereka, para penghalusinasi barat, menyumbang sedikit saja pada
sebagian kecil detail atas kerangka global ilmu pengetahuan semesta.
Bermain-main
imajinasi tentang keberadaan diri kita, tentang ada dan tiadanya realitas,
pluralitas kebenaran, dll, sembari mentulikan diri dari pemikiran kritis yang
ditawarkan suatu ormas yang harus dibubarkan karena konon anti pancasila.
Semua
itu dilakukan hanya demi bisa tetap hidup aman, meski ketidakadilan terus
tumbuh subur, meski perampokan harta rakyat oleh pemodal asing/ aseng makin
leluasa.
Sudahlah,
berhentilah berpura-pura menjadi ikan. Ikan sungguh tak terseret arus. Ikan sungguhan
bisa berenang menuju arah yang benar. Meski harus melawan arus.
