“Berpikir itu bagaikan pasukan marinir yang berusaha
merebut pantai untuk pendaratan pasukan infantry. Pasukan infantry ibarat ILMU,
baik tsaqofah Islam maupun sains. Pantainya ibarat isu-isu zaman kontemporer
yang butuh solusi.”
Seorang aktivis Muslimah harus mampu
menghidupkan tsaqofah Islam atau ilmu agamanya. Agar hidup dan selalu relevan
dengan konteks zaman.
Ini mengingatkan saya dengan nasihat Ust
Bachtiar Nasir,
“Untuk
menjadi du’at ilallah diakhir zaman, banyak ilmu yang perlu dipelajari, apalagi
era post mordenisme ditengah frame akhiruzzaman. Jika kita tidak bisa
menerjemahkan/ menganalisis mutun ilmu (konten kitab) dalam dunia konteks yang
sekarang sangat dinamis sekali, yakni dunia konteks pergerakan, dunia
perlawanan. Maka kita hanya akan menjadi penikmat ilmu dan PEMAIN
PINGGIRAN, yang tidak pernah bisa
menjadi PETARUNG dalam aras mainstream.”
(Ust Bachtiar Nasir, 2014)
Ya. Kompetisi para Da’i akhir zaman salah
satunya adalah kemampuan berfikir konstektual. Agar tsaqofah Islam PLUG-IN/
nancap pada realita dengan penancapan yang pas, tajam dan menyentuh kesadaran
dan kebutuhan umat. Tidak normatif dan teoritis semata.
Agar pasukan infantry segera mendarat pada
pantai yang tepat dalam target peperangan, yakni pantai yang membutuhkan
pertolongan, bukan pulau yang damai.
Dalam kontekstualisasi pemikiran dan tsaqofah
Islam kita bisa memproduksi narasi opini perlawanan terhadap semua fitnah dan
propaganda barat terhadap Islam, sekaligus mampu menciptakan narasi yang
menggerakkan kesadaran umat menuju kebangkitan hakiki.
Ayo para Du’at, latihlah berfikir politikmu,
miliki kompetensi seorang Mufakkir Siyasi-Siyasi Mufakkir, kontekstualkan Islam
dengan tantangan zaman.
Ukhtukum,
Fika Komara
~Reyn

