Seekor ayam betina berdiri didepan seekor elang dan berkata kepadanya,
“Mengapa engkau terbang tinggi, tidakkah engkau lihat jumlah
kalian sedikit? Ikutlah bersama kami dan masuki kandang kami, ada orang-orang
yang memberi makan kami dan kami tidak merasa lelah karena terus terbang, dan
kami tidak terancam oleh serigala!!”
Elang itu
tertawa terbahak-bahak dan berkata,
“Apabila engkau terbang tinggi, engkau akan merasakan ekstasi
kebanggaan, martabat, dan kemuliaan. Apabila engkau tinggal diatas, engkau akan
dicemburui oleh orang-orang yang tinggal di lembah. Apabila engkau makan apa
yang engkau dapatkan dengan kerja keras, engkau akan merasakan manisnya usaha
dan kerja keras, dan engkau akan tahu arti kehidupan. Tidakkah engkau lihat
bahwa orang yang memberimu makan itu, memberimu makan dari sisa-sisa
makanannya, makanannya berasal dari anak-anakmu yang ia sembelih ia mengambil
telur-telurmu dan menguncimu didalam kandang sepanjang waktu dengan dalih ada ‘serigala’?”
Ayam itu
tertawa dan berkata,
“Engkau mengucapkan kata-kata yang tidak bisa dipahami seperti
ekstasi, martabat, kemuliaan, kebanggaan dan kehidupan, kupikir engkau gila atau
akan menjadi gila.”
Sang elang
berkata kepadanya.
“Aku mengerti apa yang kau katakan karena kau dilahirkan didalam
kandang dan tinggal didalamnya, engkau tidak akan mengerti apa yang aku katakan
sampai engkau keluar dari penjara ini dan membebaskan diri dari orang-orang
yang telah memeliharamu dengan logika itu.”
Dialog imajiner antara elang dan
ayam betina diatas menggambarkan realitas seperti di dunia manusia. Ayam,
sejenis unggas (ternak), menunjukkan kepada kita arti domestikasi, dan
menggambarkan logika tentang siapa yang dijinakkan. Mereka yang telah hidup
selama puluhan tahun dibawah ‘domestikasi’ akan sulit memahami logika elang. Dan
tidak akan pernah memahaminya sampai mereka keluar dari kandang dan terbang
tinggi bersama elang yang bebas.
~Reyn

